Militan Dekati Baghdad, Obama Peringatkan Aksi Militer AS di Irak

Militan Dekati Baghdad, Obama Peringatkan Aksi Militer AS di Irak

- detikNews
Jumat, 13 Jun 2014 11:47 WIB
Militan Dekati Baghdad, Obama Peringatkan Aksi Militer AS di Irak
Tentara Irak di Tikrit yang ditangkap militan (Reuters)
Washington -

Kelompok jihadis di Irak terus bergerak mendekati ibukota Baghdad. Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengancam akan meluncurkan serangan militer AS terhadap militan Sunni di Irak.

"Saya tidak mengesampingkan apapun karena kami memiliki pertaruhan dalam memastikan bahwa kelompok jihadis ini tidak akan mendapat pijakan permanen, baik di Irak ataupun Suriah," tegas Obama di Gedung Putih AS ketika ditanya apakah dia mempertimbangkan serangan udara di Irak, seperti dilansir Reuters, Jumat (13/6/2014).

Dalam pernyatannya, Obama menyatakan, dirinya masih terbuka bagi segala macam opsi demi membantu pemimpin Irak menyelamatkan keamanan di negaranya. "Dalam konsultasi kami dengan pemimpin Irak, akan ada beberapa hal bersifat jangka pendek yang perlu dilakukan secara militer," sebutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pejabat Gedung Putih menambahkan, bahwa tentara AS tidak akan dikerahkan ke lapangan dalam memerangi militan Sunni di Irak.

Dalam komentarnya, Obama juga menyinggung keluhan lama AS bahwa Perdana Menteri Irak yang berasal dari Syiah, Nuri al-Maliki tidak mampu melakukan hal-hal untuk menyembuhkan keretakan sektarian yang meninggalkan luka besar bagi kaum minoritas Sunni di Irak.

"Ini seharusnya juga menjadi peringatan besar bagi pemerintah Irak. Pasti ada komponen politis dalam hal ini," ucap Obama.

Wakil Presiden AS Joe Biden telah menghubungi PM Maliki untuk memberitahukan bahwa AS tengah bersiap untuk mengintensifkan dan meningkatkan dukungan militer di Irak. Gedung Putih telah memberikan sinyal, pada Rabu (11/6) bahwa AS akan memperkuat pasukan Irak daripada memenuhi permintaan serangan udara.

Sementara itu, dilaporkan bahwa perusahan pembuat senjata asal AS, Lockheed Martin Corp mengevakuasi puluhan pegawainya yang ada di wilayah utara Irak. Departemen Luar Negeri AS menuturkan, sejumlah perusahaan AS lainnya juga merelokasi pegawainya yang ada di Irak.

"Kami bisa memastikan bahwa warga negara AS, di bawah kontrak pemerintah Irak, mendukung program US Foreign Military Sales di Irak, tengah direlokasi sementara oleh perusahaan mereka karena kondisi keamanan yang tidak kondusif," terang juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jen Psaki.

Psaki menolak untuk menyebutkan ada berapa warga AS di Irak yang direlokasi. Namun dia menyatakan bahwa kantor konsulat dan kedutaan AS masih beroperasi normal.

Militan Sunni yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) telah menguasai sejumlah besar wilayah di Irak bagian utara, termasuk kota Mosul yang merupakan kota terbesar kedua di Irak. Kota Tikrit juga provinsi Nineveh dan bagian-bagian penting kota Kirkuk juga telah jatuh ke tangan militan, yang kini terus bergerak untuk mendekati dan menduduki ibukota Baghdad.

(nvc/nwk)


Berita Terkait