Demikian disampaikan Organisasi Internasional untuk Migrasi atau International Organization for Migration (IOM) seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (11/6/2014).
Menurut IOM, pertempuran antara pasukan Irak dan para militan Islamic State of Iraq and the Levant di Mosul telah menimbulkan banyak korban jiwa warga sipil. Namun tidak disebutkan jumlah korban tewas persisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kota Mosul yang mayoritas penduduknya warga Sunni, berada sekitar 350 kilometer sebelah utara ibukota Baghdad. Kota ini telah lama menjadi basis militan dan merupakan salah satu wilayah paling berbahaya di Irak.
Pejabat Kementerian Dalam Negeri Irak mengatakan pada Selasa, 10 Juni, kota Mosul telah berada di tangan para militan yang menyerbu kota tersebut dan terlibat pertempuran dengan para tentara Irak. Dikatakannya, para tentara di kota tersebut telah kabur meninggalkan pos-pos mereka setelah melepaskan seragam militer mereka.
Seorang pejabat militer setempat mengatakan, pasukan Irak di Mosul bertempur melawan ratusan militan dari kelompok jihadis Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) sejak Senin, 9 Juni malam waktu setempat. Unit-unit militer kemudian mundur dari bagian timur kota tersebut menuju bagian barat Mosul, sebelum akhirnya meninggalkan kota tersebut. Maka jadilah kini para militan menguasai Mosul.
Kota Mosul merupakan kota kedua di Irak yang kini berada di bawah kendali para militan. Sebelumnya pada Januari lalu, pemerintah Irak juga kehilangan kendali atas kota Fallujah, yang berada tak jauh dari ibukota Baghdad.
(ita/ita)










































