Memenangkan 97 persen suara, Sisi menggantikan posisi hakim senior Adly Mansour yang ia tunjuk sendiri sebagai presiden interim setelah Morsi ditahan Juli lalu.
Acara pelantikan Sisi dihadiri oleh beberapa pemimpin Timur Tengah dan Afrika, serta para elite politik Mesir yang hampir seluruhnya laki-laki. Beberapa pendukung juga berkumpul di luar Mahkamah Konstitusi Kairo, tempat diselenggarakannya acara pengangkatan ini. Di tempat ini jugalah Morsi disumpah sebagai presiden dua tahun yang lalu.
Tapi acara ini nampaknya dihindari oleh pemerintah barat, yang acap kali mengkritisi catatan hak asasi manusia Mesir 11 bulan semenjak digulingkannya pemerintahan Morsi. Periode ini tercatat dalam sejarah Mesir sebagai salah satu masa dengan kekerasan terbesar yang dilakukan atas nama negara.
Dengan kendaraan pengangkut berlapis baja dan tank di tempatkan di tempat-tempat strategis, keamanan di Kairo selama acara pengangkatan sangat ketat.
“Saya bersumpah atas nama Tuhan untuk melindungi sistem republik, untuk menghargai konstitusi dan hukum, menjaga kepentingan masyarakat, dan mempertahankan kemerdekaan negara dan kesatuannya,” kata Sisi bersumpah setelah upacara singkat.
Ia juga mengharapkan kerja keras dan kebebasan “dalam kerangka yang bertanggung jawab dan jauh dari kekacauan.”
“Ini waktunya untuk memulai masa depan yang lebih “stabil,” kata Sisi.
Mengharapkan stabilitas dan perbaikan ekonomi, media negara dan swasta banyak memuji Sisi, melupakan penganiayaan meluas yang seringkali diprotes oleh kelompok-kelompok pejuang hak asasi manusia.
(trq/trq)











































