Kelompok Pria Bersenjata Sandera Ratusan Mahasiswa di Universitas di Iraq

Kelompok Pria Bersenjata Sandera Ratusan Mahasiswa di Universitas di Iraq

- detikNews
Minggu, 08 Jun 2014 00:53 WIB
Ramadi - Sekelompok pria bersenjata menduduki Universitas Anbar pada Sabtu (7/6). Mereka menyandera ratusan mahasiswa dan pengajar di universitas tersebut. Menurut pihak keamanan setempat, ini merupakan serangan ketiga dalam minggu ini yang dilakukan oleh militan-militan yang mengambil alih bagian dari dua kota lainnya.

Dilansir dari Reuters, Minggu (8/6/2014), setelah melakukan perlawanan terhadap penjaga, kelompok pria bersenjata ini masuk ke Universitas Anbar di kota Ramadi, kota yang sebagian wilayahnya telah diduduki oleh suku dan pemberontak anti pemerintah sejak awal tahun ini.

Pihak keamanan telah mengelilingi Universitas di Ramadi sejak Sabtu dan telah melepaskan baku tembak dengan sekelompok militan yang membawa bom dan yang berpatroli di atap gedung dengan menggunakan sniper.

Menurut pihak rumah sakit di Ramadi, sudah ada dua korban akibat peristiwa ini, satu merupakan mahasiswa dan satu lagi adalah polisi.

Seorang profesor yang terperangkap di dalam Fakultas Fisika menuturkan bahwa beberapa staf yang tinggal di luar Ramadi sedang menghabiskan waktu malamnya di kampus untuk persiapan ujian.

"Kami mendengar bunyi tembakan sekitar pukul 4 pagi. Kami kira tembakan tersebut berasal dari pasukan keamanan yang akan menyelamatkan kami, tapi kemudian kami terkejut melihat sekelompok pria bersenjata itu. Mereka menyuruh kami masuk ke dalam ruangan dan sekarang kami tidak bisa keluar," tuturnya melalui sambungan telepon.

Beberapa saat kemudian ia bersama dengan lima belas rekan dan muridnya dapat melarikan diri. "Saya membawa beberapa murid saya, kertas ujian dalam tas nilon, memakai dasi dan jas, dan saya melompat ke pagar. Sekarang saya di luar."

Menurut sumber, militan-militan tersebut mengizinkan sekitar 100 hingga 150 orang untuk meninggalkan kampus.

Identitas penyerang di Ramadi sampai saat ini masih belum jelas, tetapi Ramadi merupakan salah satu dari dua kota di Anbar yang diambil alih oleh suku dan pemberontak Sunni sejak awal tahun ini, termasuk kelompok Negara Islam di Iraq (ISIL).

Pasukan keamanan saat ini berpusat pada kota Ramadi, tetapi pinggiran kota serta daerah-daerah lainnya masih berkutat antara pasukan keamanan dan kelompok militan. Kota Falluja yang terletak sekitar 50 kilometer (31 mil) dari pusat kota Ramadi sampai saat ini masih berada di tangan pemberontak.

Salah satu penjaga di kampus mengatakan bahwa ia percaya tujuan utama kelompok militan tersebut adalah untuk menguasai wilayah Humaira yang terletak di belakang kampus, yang memungkinkan mereka untuk dapat mengatur jalur pasokan antara Ramadi dan Falluja.

"Saya pikir target kelompok militan tersebut bukanlah universitas. Mereka datang untuk menduduki Humaira, dan kita tahu seberapa pentingnya kota tersebut untuk mereka," tuturnya.

"Mereka ingin tersambung dengan kelompok di Falluja. Saya pikir pasukan keamanan telah mengetahui hal tersebut."

Kekerasan terulang kembali

Menurut PBB, hampir 480.000 orang dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka di Anbar dalam enam bulan terakhir. Hal ini merupakan pemindahan terbesar Iraq semenjak pertumpahan darah pengikut sekte yang memuncak tahun 2006-2007.

Kekerasan yang terjadi saat ini memang masih jauh di bawah level peristiwa pertumpahan dara tersebut. Namun, pemberontak telah merebut kembali wilayah dan momentum selama setahun belakangan ini sehingga membuat tahun 2013 menjadi tahun yang paling mematikan semenjak keamanan mulai membaik.

Setidaknya 800 orang terbunuh di seluruh wilayah negara pada Mei - jumlah korban tertinggi pada tahun ini.

Pada Kamis, kelompok militan pindah ke kota Samarra, berdekatan dengan provinsi Salahuddin, dan menduduki sebuah universitas di sana, termasuk dua masjid. Hal tersebut menambah bendera hitam ISIL sampai pada akhirnya dipaksa mundur melalui serangan udara.

Pada hari berikutnya, pemberontak bersitegang dengan pasukan keamanan Iraq di kota Mosul.

Sumber di Mosul mengatakan bahwa 70 korban tewas telah dibawa pada Sabtu, sementara yang lainnya masih belum bisa ditemukan mengingat beberapa wilayah di kota tersebut masih dikuasai oleh kelompok militan.

(trq/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads