"Pemilihan presiden di Suriah memalukan," cetus juru bicara Departemen Luar Negeri AS Marie Harf seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (4/6/2014).
"Kredibilitas Assad saat ini tidak lebih baik daripada kemarin," imbuh Harf.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu tidak memenuhi standar internasional untuk pemilihan yang bebas, adil dan transparan dan saya yakin, tak ada sekutu NATO yang akan mengakui hasil dari apa yang disebut pemilihan ini," tutur Rasmussen.
Presiden Assad diyakini akan memenangkan pemilihan presiden, yang oleh kubu oposisi Suriah juga disebut sebagai "lelucon." Dalam pilpres ini, para lawan politik rezim Assad tidak diikutsertakan. Pilpres pun hanya digelar di wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali militer Suriah.
Dalam pilpres ini, Assad bertarung melawan dua kandidat yang nyaris tak pernah terdengar namanya sebelumnya, yakni Maher al-Hajjad dan Hassan al-Nuri.
(ita/ita)











































