Bertambah banyak produk-produk asal Indonesia yang berhasil menembus pasar Selandia Baru. Paling sedikit sepuluh jenis produk Indonesia telah masuk ke pasar Selandia Baru dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari mie istan, kecap manis, sambal botol, kacang, bumbu masak kemasan, kertas tisu, kertas toilet, buku tulis, lampu pijar hingga pembalut telah menghiasi deretan rak jaringan supermarket besar di Selandia Baru.
Adalah Yuri A Hartoyo, WNI yang punya andil memperkenalkan produk barang dan makanan asal Indonesia di Selandia Baru sejak tahun 2006. Ini berkat pekerjaan Yuri sebagai manajer pembelian pada perusahaan koperasi berupa jaringan supermarket besar "Pak βN Save" di Brunswick-Lower Hutt, Wellington.
Pria jebolan NHI, Bandung (1990) dan pekerja di kafe Warung Kemang di Jakarta (1997-2000) ini, tiba di Selandia Baru pada tahun 2001. WNI berumur 45 tahun ini merupakan pemegang diploma bisnis dari Universitas Massey di Wellington.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Produk Indonesia yang berkualitas, bagus kemasannya dan berstandar internasional, sesungguhnya punya peluang untuk menembus pasar Selandia Baru," tutur Yuri kepada Ple Priatna, pejabat KBRI di Wellington, seperti disampaikan kepada detikcom, Jumat (30/5/2014).
Menurut Yuri, produk Indonesia yang bagus dan berkualitas, bisa bersaing keras dengan produk Thailand, Vietnam, Malaysia, Korea, Jepang, dan juga produk-produk Tiongkok. Bahkan sebagian eksportir dari ASEAN berhasil merebut segmen produk susu dan olahannya (dairy products) yang mayoritas dikuasai produk lokal dan Australia.
"Konsumen Selandia Baru cukup fair, tidak membedakan asal tapi memilih produk bagus, berkualitas dengan harga terjangkau. Konsumsi kertas tisu saja misalnya, bisa terjual hingga 7.000 dolar Selandia Baru setiap minggunya," papar Yuri.
"Per minggunya di pasar swalayan ini, omzet bisa mencapai 1,8 juta dolar Selandia Baru (sekitar Rp 180 miliar)," imbuhnya kepada Priatna yang diundang datang ke kantornya.
Dikatakan Yuri, produk makanan asal Indonesia yang masuk ke pasar Selandia Baru masih bisa terus ditingkatkan.
"Warga Selandia Baru mengenal barang dan makanan Asia, misal Bali, India, Thailand, Vietnam atau Singapura karena pengalaman saat berwisata. Promosi kuliner melalui paket wisata adalah modal penting untuk terutama memperkenalkan produk makanan yang akan dipasarkan," saran Yuri.
Produk buah kalengan yang bersertifikat, ujar Yuri, dikemas secara baik dan dilengkapi label info kandungan dan kualitas nutrisi di dalamnya, menjadi penting untuk menarik minat konsumen.
Menurut Priatna, situasi menjanjikan seperti ini membuka peluang untuk lebih ditingkatkannya jumlah produk asal Indonesia yang masuk ke negeri Kiwi itu.
"Bayangkan, bila di pasar swalayan di berbagai pelosok kota besar di Selandia Baru ini, bisa dibuka dan dikelola deretan rak pojok ala "Indonesia Corner", yang memajang dan menjajakan produk barang dan makanan Indonesia yang berkualitas. Luar biasa dampaknya," pungkas Priatna dalam obrolan dengan Yuri.
(ita/ita)











































