Keyakinan ini muncul setelah tim pencari menyelesaikan fase pertama mereka, yakni penelusuran area perairan seluas 852 kilometer persegi di Samudera Hindia bagian selatan, tanpa menemukan apapun terkait MH370.
Kepada CNN, Kamis (29/5/2014), Wakil Direktur Teknis Kelautan pada US Navy, Michael Dean menuturkan, otoritas terkait kini secara umum meyakini bahwa empat ping yang terdeteksi pada 5 dan 8 April lalu, bukan berasal dari data pesawat atau rekaman percakapan kokpit yang ada pada kotak hitam MH370.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditanya apakah negara-negara yang terlibat dalam misi pencarian MH370 telah mencapai kesimpulan yang sama, Dean menjawab: "Iya."
"Teori terbaik kami saat ini ialah kemungkinan besar (ping) berasal dari suara yang dihasilkan oleh kapal ... atau dari peralatan elektronik Towed Pinger Locator," jelas Dean.
Towed Pinger Locator digunakan tim pencari untuk mendeteksi sinyal di bawah laut. "Yang selalu menjadi ketakutan setiap kali Anda menggunakan perlengkapan elektronik di dalam air adalah jika ada air yang masuk dan memicu atau mengganggu sesuatu, sehingga memicu suara lainnya," jelasnya.
Otoritas Australia yang memimpin misi pencarian belum menanggapi pernyataan Dean ini.
MAS MH370 yang membawa 227 penumpang dan 12 awak belum juga diketahui keberadaannya hingga kini. Jejak terakhir pesawat ini berdasarkan data satelit menunjukkan pesawat ini menghilang di atas Samudera Hindia bagian selatan, berkilo-kilometer jauhnya dari rute sebenarnya menuju Beijing, China.
(nvc/fdn)











































