Pemilu yang akan digelar selama dua hari ini, merupakan yang pertama kalinya digelar setelah Presiden Mohamed Morsi digulingkan dari kursinya pada Juli 2013 lalu. Demikian seperti dilansir AFP, Senin (26/5/2014).
Tempat pemungutan suara mulai dibuka pada pukul 06.00 waktu GMT. Dilaporkan ada 53 juta pemilih yang terdaftar dalam pemilu ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemilu ini dilihat menjadi harapan dan solusi bagi krisis politik yang terus melanda Mesir, meskipun presiden terpilih telah ditentukan oleh pemilu demokratis. Morsi yang merupakan presiden pertama yang terpilih dalam proses pemilu yang demokratis di Mesir, hanya bisa memerintah selama 1 tahun, karena dianggap tidak memberikan banyak perubahan yang membawa Mesir lebih baik.
"Kami membutuhkan seseorang yang mampu berbicara dengan penuh tekad dan kuat. Rakyat Mesir takut dengan ini dan menghormati orang-orang seperti ini," ucap salah satu pemilih, Milad Hanna sambil mengantre di salah satu tempat pemungutan suara di Kairo.
Hanna yang seorang pengacara berusia 29 tahun ini mengaku dirinya memilih Sisi pada pemilu kali ini. Pada pemilu tahun 2012 lalu saat Morsi menang, Hanna menyebutkan dirinya memilih Sabbahi yang juga maju menjadi capres saat itu.
"Kami membutuhkan seseorang yang kuat, seorang pria militer," sebutnya.
Pelaksanaan pemilu ini mendapat kawalan ketat dari militer dan juga polisi Mesir. Setiap tempat pemungutan suara dikawal oleh tentara dan polisi bersenjata lengkap.
Kelompok Ikhwanul Muslimin yang menaungi presiden terguling Morsi, menyatakan boikot terhadap pemilu ini dan menegaskan tidak akan mengakui hasil pemilu, siapapun yang menang.
Sementara itu, dilaporkan Sisi tiba di pemungutan suara di Kairo, pagi ini untuk menggunakan hak suaranya. Kepada pendukungnya, Sisi menyatakan tidak akan membiarkan Ikhwanul Muslimin muncul kembali di bawah pemerintahannya.
Sedangkan lawan Sisi, Sabbari bersumpah akan mempertahankan aspirasi demokrasi bagi Mesir yang digaungkan pada unjuk rasa tahun 2011 lalu. "Kami bersumpah pada Tuhan bahwa simbol korupsi dan kelaliman (dari era Mubarak) tidak akan kembali," tegasnya.
(nvc/ita)










































