Seorang sumber pejabat pemerintah AS menyatakan, pihaknya tidak terkejut dengan penolakan tersebut. Sebabnya, tawaran kepada Presiden Karzai tersebut baru disampaikan sesaat setelah Obama tiba di Pangkalan Udara Bagram, Kabul pada Minggu (25/5) malam.
"Seperti kami katakan, kami sebenarnya tidak merencanakan pertemuan bilateral dengan Presiden Karzai ataupun merencanakan kunjungan ke kantornya, karena perjalanan ini difokuskan untuk berterima kasih kepada tentara kami," jelas pejabat AS yang enggan disebut namanya tersebut, seperti dilansir AFP, Senin (26/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dalam penerbangan pulang ke AS, Obama menelepon Karzai. Seorang pejabat senior administrasi AS menyebutkan, Obama dan Karzai sempat bercakap-cakap selama 15-20 menit via telepon.
"Obama mengatakan bahwa dia ingin menyelesaikan BSA (Bilateral Security Agreement) dengan penerus Karzai. Dan dia (Obama) sepakat untuk terus kontak dengan Karzai meskipun setelah AS mengambil keputusan soal penempatan tentara pasca 2014," terang pejabat tersebut.
Dalam kunjungannya selama 4 jam di Pangkalan Udara Bagram, Afghanistan, Obama memperbarui komitmennya soal pembatasan pengerahan militer AS dan pasukan NATO di Afghanistan pasca penarikan militer dilakukan akhir tahun ini.
Namun belum ada kesepakatan soal hal tersebut. Sebabnya, Presiden Karzai menolak untuk menandatangani perjanjian keamanan bilateral yang memperbolehkan adanya misi pelatihan tentara AS di negara tersebut pasca tahun 2014.
Di sisi lain, AS meyakini dua kandidat capres Afghanistan dalam pemilu yang akan digelar Juni mendatang akan mau menandatanganinya jika terpilih menjadi presiden. Maka dari itu, Obama menyampaikan pernyataan demikian dalam percakapan teleponnya dengan Karzai.
(nvc/ita)











































