Pemimpin Kudeta Militer Thailand akan Terima 'Restu' dari Raja Bhumibol

Pemimpin Kudeta Militer Thailand akan Terima 'Restu' dari Raja Bhumibol

- detikNews
Senin, 26 Mei 2014 09:59 WIB
Pemimpin Kudeta Militer Thailand akan Terima Restu dari Raja Bhumibol
Jenderal Prayuth (Reuters)
Bangkok -

Pemimpin kudeta militer Thailand, Jenderal Prayuth Chan-O-Cha akan menerima dukungan dari Raja Bhumibol Adulyadej, hari ini. Kemudian Jenderal Prayuth akan menyampaikan pidato pertamanya di hadapan publik, semenjak mengambil alih kekuasaan pemerintah Thailand pekan lalu.

Upacara pemberian 'restu' kerajaan dijadwalkan akan dimulai pukul 10.49 waktu setempat. Upacara ini merupakan formalitas penting di negara tersebut karena kerajaan merupakan institusi paling penting di Thailand. Demikian seperti dilansir Reuters dan AFP, Senin (26/5/2014).

Kerajaan Thailand kini dipimpin oleh Raja Bhumibol Aduyadej yang sangat dihormati oleh seluruh rakyat Thailand, meskipun kondisinya tidak lagi sehat. Restu dari Raja Bhumibol telah secara tradisi menjadi langkah penting dalam melegitimasi kudeta militer yang terjadi di Thailand, yang sejauh ini sudah terjadi sekitar 19 kali sejak tahun 1932 silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Upacara untuk menerima perintah kerajaan, dalam penunjukan Jenderal Prayuth sebagai pemimpin Dewan Nasional Kedamaian dan Ketertiban akan dimulai sekitar pukul 10.00 di markas militer," terang juru bicara militer Thailand, Sirichan Ngathong.

Namun demikian, Sirichan mengindikasikan bahwa Raja Bhumibol sendiri tidak akan hadir dalam upacara tersebut. Hingga kini, belum ada komentar resmi dari Raja Bhumibol terkait kudeta militer tersebut.

Dalam upacara tersebut, Jenderal Prayuth akan menyampaikan pidato pertamanya di hadapan publik. Dalam pidatonya, Prayuth akan menjelaskan kepada publik soal langkah-langkah yang akan diambilnya, termasuk proklamasi konstitusi sementara dan menetapkan dewan legislatif sementar.

Pekan lalu, Jenderal Prayuth mengumumkan kudeta militer setelah krisis politik yang berlangsung selama berbulan-bulan, tidak menunjukkan arah ke penyelesaian. Semua pihak yang berbeda pendapat, dipertemukan dalam satu forum namun tidak ada kesepakatan dan solusi yang dicapai.

Oleh karena itu, diambil keputusan oleh militer untuk melakukan kudeta dengan tujuan mengembalikan ketertiban dan perdamaian di Thailand. Sebab, diketahui bahwa krisis politik yang berlangsung selama 7 bulan terakhir telah memakan korban jiwa nyaris 30 orang dan melukai ratusan orang lainnya.

Namun aksi protes tetap terjadi di tengah kudeta militer di Thailand. Pada Minggu (25/5), dilaporkan lebih dari 1.000 demonstran anti-kudeta melakukan aksinya di ibukota Bangkok meskipun kawalan tentara membayangi mereka.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads