Amerika Serikat membatalkan latihan militer yang sedang berlangsung dan juga kunjungan yang telah direncanakan di Thailand. Hal ini terkait dengan kudeta yang dilakukan oleh militer Thailand.
"Ketika kami sedang menikmati sebuah hubungan militer yang produktif dan menjanjikan dengan Thailand, prinsip demokrasi dan hukum kami membutuhkan kami untuk mempertimbangkan kembali tentang keterlibatan dan bantuan militer," kata juru bicara Laksamana John Kirby dalam sebuah pernyataan yang dilansir AFP, Sabtu (24/5/2014).
Sebelumnya juru bicara militer Thailand, Kolonel Winthai Suvaree menyebutkan sebanyak 155 pemimpin pemerintahan Thailand dan tokoh-tokoh oposisi telah ditahan militer menyusul kudeta militer yang terjadi di negeri itu. Mereka, termasuk mantan Perdana Menteri (PM) Thailand Yingluck akan ditahan maksimal sepekan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya kudeta militer, ada sejumlah ketentuan berbeda yang diterapkan militer di Thailand. Selain membubarkan demonstran, militer juga melakukan sensor pada media massa, di mana seluruh televisi dilarang beroperasi seperti biasa dan hanya diperbolehkan menyiarkan material militer.
Kemudian militer juga memberlakukan jam malam, yakni mulai pukul 22.00 hingga pukul 05.00 waktu setempat. Transportasi publik mulai beroperasi setelah jam malam, kondisi lalu lintas cenderung sepi. Mobil-mobil yang melintas harus menjalani pemeriksaan militer.
Namun demikian, kondisi Bangkok, pagi ini dilaporkan tenang dan aktivitas berjalan normal seperti biasa. Meskipun militer telah memerintahkan seluruh sekolah dan universitas untuk tutup sementara.
(dha/rmd)










































