"Kami telah memberitahu rekan kami otoritas China bahwa kami ada di wilayah mereka untuk membantu mereka menemukan warga negara mereka," terang Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Fabius saat berkunjung ke Beijing, China untuk bertemu dengan Perdana Menteri China Li Keqiang, seperti dilansir AFP, Senin (19/5/2014).
Sekelompok pria bersenjata yang diduga kuat Boko Haram, menyerang kamp pekerja asal China yang ada di Waza, Kamerun pada Jumat (16/5) tengah malam. Kepolisian setempat menduga, pekerja yang diculik tersebut telah dibawa melintasi perbatasan masuk ke Nigeria, yang merupakan markas Boko Haram.
"Kami hampir yakin bahwa 10 warga China telah diculik dan dibawa ke Nigeria. Kami belum mendapat informasi terbaru mengenai mereka," terang seorang pejabat kepolisian Kamerun yang enggan disebut namanya.
"Upaya pencarian terus berlanjut (di Kamerun) tapi terlepas dari sedikitnya informasi, saya tidak bisa melihat kelanjutannya karena para pelaku sudah meninggalkan negara ini," imbuhnya.
Serangan Boko Haram tersebut menewaskan 1 orang pekerja asal China. Otoritas Waza menyebut, para pelaku membawa senjata lengkap dan datang menggunakan lima kendaraan. Para pelaku sempat terlibat baku tembak dengan tentara yang menjaga kamp pekerja asing tersebut, sebelum akhirnya mereka melarikan diri dengan membawa pekerja lainnya.
Menurut pejabat Waza, kamp para pekerja lapangan asal China biasanya dijaga oleh sejumlah tentara Kamerun dari divisi Rapid Intervention Battalion. Namun pada saat kejadian, jumlah tentara yang bertugas tidak banyak karena sebagian besar pergi ke ibukota Yaounde untuk mengikuti parade militer pada Hari Kemerdekaan 20 Mei mendatang.
Insiden penculikan ini terjadi ketika Presiden Prancis Francois Hollande tengah menjamu para pemimpin negara-negara Afrika, termasuk Presiden Kamerun dan Nigeria untuk membahas strategi memerangi Boko Haram yang semakin merajalela. Presiden Nigeria Goodluck Jonathan dan mitranya dari Benin, Chad, Kamerun dan Niger sepakat pada rencana aksi untuk memerangi Boko Haram.
"Kami di sini untuk menyatakan perang terhadap Boko Haram," tegas Presiden Kamerun Paul Biya.
Kesepakatan tersebut termasuk melakukan koordinasi pengawasan demi menemukan ratusan siswi sekolah Nigeria yang diculik Boko Haram, serta berbagi informasi intelijen demi mengamankan perbatasan antar negara.
(nvc/ita)











































