Jika Ganggu Pemilu Ukraina, Rusia Terancam Sanksi Baru AS dan Prancis

Jika Ganggu Pemilu Ukraina, Rusia Terancam Sanksi Baru AS dan Prancis

- detikNews
Sabtu, 17 Mei 2014 12:30 WIB
Jika Ganggu Pemilu Ukraina, Rusia Terancam Sanksi Baru AS dan Prancis
Ilustrasi
Washington - Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Prancis Francois Hollande kompak memperingatkan akan menjatuhkan sanksi baru untuk Rusia. Hal ini berlaku jika Rusia terus melanjutkan perilaku provokatif dan mendestabilisasi Ukraina.

"Kedua presiden menegaskan bahwa Rusia akan menghadapi biaya tambahan yang cukup signifikan jika terus melanjutkan perilaku provokatif dan destabilisasinya," terang Gedung Putih AS dalam pernyataannya seperti dilansir AFP, Sabtu (17/5/2014).

"Presiden Obama memuji upaya pemerintah Ukraina untuk menyatukan negaranya dengan menggelar pemilu yang bebas dan adil pada 25 Mei yang akan membawa kepada proses reformasi konstitusional yang inklusif," imbuh pernyataan tersebut.

Pemerintah AS memperingatkan Rusia mengenai sanksi lebih berat jika negara tersebut berusaha menganggu jalannya pemilu Ukraina mendatang. Sanksi yang akan diberikan AS akan menghantam sektor ekonomi Rusia secara langsung.

Dalam pernyataan Gedung Putih tersebut, tidak dijelaskan lebih lanjut apakah Obama juga mendesak Hollande untuk membatalkan penjualan dua kapal induk pembawa helikopter buatan Prancis senilai US$ 1,6 miliar (Rp 18,2 triliun) kepada Rusia. AS menyebut penjualan tersebut sebagai tindakan tidak pantas setelah Rusia mencaplok wilayah Crimea, yang sebelumnya masuk dalam wilayah Ukraina.

Pekan ini, otoritas Ukraina menggelar perundingan meja bundar membahas krisis yang terjadi di wilayahnya. Pemimpin-pemimpin negara Eropa diundang untuk menghadiri perundingan yang digelar di Kiev ini. Fokus pembahasan dalam pertemuan ini dikonsep oleh badan keamanan pan-European OSCE.

Pertemuan tersebut menyatukan pejabat pemerintahan Ukraina, termasuk PM Arseniy Yatsenyuk bersama dengan anggota parlemen dan mantan pemimpin parlemen setempat, serta kandidat yang maju dalam pemilu 25 Mei mendatang. Namun kelompok separatis yang menguasai sejumlah kota di wilayah Ukraina bagian timur sejak April lalu, tidak ikut duduk bersama dalam perundingan ini.

Diplomat veteran Jerman Wolfgang Ischinger menjadi moderator dalam perundingan tersebut. Tidak disebutkan negara mana saja yang hadir dalam perundingan ini. Namun Kanselir Jerman Angela Merkel menyebut perundingan ini menawarkan kemungkinan yang baik untuk menemukan jalan keluar bagi krisis yang melanda Ukraina dan Rusia.

(nvc/asp)


Berita Terkait