Kepolisian terpaksa melepas tembakan gas air mata dan meriam air, serta menembakkan peluru karet untuk memecah massa yang terus menyerukan slogan antipemerintah di kota Soma, yang menjadi lokasi ledakan tambang mematikan.
"Soma tidak tidur. Jangan lupakan para pekerja tambang!" teriak sekitar 10 ribu demonstran secara bersamaan sambil mengepalkan tangan mereka ke udara, seperti dilansir AFP, Sabtu (17/5/2014).
Sejumlah demonstran bahkan melemparkan batu ke arah polisi yang mengawal mereka. Dilaporkan sedikitnya 5 orang, termasuk dua personel kepolisian mengalami luka-luka dalam bentrokan ini. Ada laporan beberapa demonstran yang diamankan polisi dalam bentrokan ini.
"Anda ingin mengejar para pekerja tambang di negara ini. Anda ingin berperang?" teriak salah satu demonstran.
Ledakan di tambang batubara Soma ini dianggap sebagai insiden industri paling parah yang pernah terjadi Turki. Publik menuding adanya kelalaian pemerintah serta pihak industri tambang terkait insiden ini.
Publik semakin marah pasca komentar Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan yang dianggap tidak sensitif mengenai insiden ledakan tersebut. PM Erdogan menyebut insiden di tambang batubara Soma ini sebagai 'hal yang wajar dalam bisnis'.
"Ini bukan merupakan kecelakaan yang sudah ditakdirkan. Ini adalah pembunuhan," teriak seorang demonstran, Burhan Celik (23).
Terakhir dilaporkan 18 orang masih terjebak di dalam lokasi tambang. Upaya pencarian terus dilakukan sepanjang malam. Menteri Energi Turki Taner Yildiz menyatakan, delapan jasad berhasil dievakuasi pada Jumat (16/5) kemarin sehingga korban tewas saat ini mencapai 292 orang, yang semuanya merupakan pekerja tambang.
(nvc/asp)











































