Para demonstran yang beraksi di lokasi ledakan di Soma, Manisa ini menyatakan protes kepada pemerintah dan juga industri tambang Turki yang dianggap lalai dalam menjamin keselamatan pekerja tambang di negaranya sehingga berujung insiden mematikan yang merenggut banyak nyawa.
Seperti dilansir CNN, Jumat (16/5/2014), insiden penendangan ini terjadi ketika PM Erdogan mengunjungi lokasi tambang di Soma, sehari setelah ledakan terjadi pada Selasa (12/5) tengah malam. Erdogan didampingi oleh sejumlah pengawal dan ajudannya sempat dihadang oleh demonstran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria berjas tersebut diidentifikasi oleh media Turki dan juga CNN Turki sebagai Yusuf Yerkel yang ternyata ajudan PM Erdogan. Gambar ini memicu kemarahan publik di Turki. Banyak yang melontarkan kemarahannya di media sosial. Penendangan semacam ini dianggap menyimbolkan polarisasi kekuasaan Erdogan di Turki.
Dikutip oleh kantor berita semi-resmi Turki, Anadolu, Yerkel mengaku dirinya sangat sedih dengan apa yang terjadi di Soma. Dia mengaku terbawa emosi saat itu.
"Saya sedih karena saya tidak bisa menjaga ketenangan saya di depan semua provokasi itu, penghinaan itu dan serangan yang diarahkan kepada saya pada hari itu," ucapnya. Namun tidak ada permintaan maaf dari Yerkel.
Selain dipicu oleh foto mengejutkan tersebut, publik semakin marah pasca pidato PM Erdogan di hadapan keluarga korban tewas dan korban luka yang dianggap tidak sensitif dan memicu kritikan tajam dari publik.
Sebagai pelampiasan kemarahan, unjuk rasa antipemerintah semakin meluas di Turki. Kota Istanbul dan Ankara dipenuhi ratusan demonstran dan bahkan berujung bentrok dengan kepolisian setempat. Empat serikat pekerja terbesar di Turki bahkan menyerukan unjuk rasa besar-besaran pada Kamis (15/5) kemarin.
Sementara itu, Menteri Energi Turki Taner Yildiz menuturkan, jumlah korban tewas hingga saat ini dikonfirmasi mencapai 283 orang. Semuanya merupakan pekerja tambang. Yildiz menyatakan, operasi pencarian akan terus dilakukan sepanjang malam dan hingga Jumat (16/5) ini.
Ada pekerja tambang yang masih terjebak di dalam, namun jumlahnya tidak diketahui pasti. Namun harapan untuk menemukan korban selamat telah memudar.
(nvc/asp)











































