"Saya ingin memperingatkan setiap kelompok -- terutama mereka yang menggunakan kekerasan dan senjata perang terhadap warga sipil yang tak bersalah -- untuk menghentikannya sekarang, karena jika kekerasan semacam ini berlanjut, militer mungkin perlu turun langsung... untuk mengembalikan perdamaian dan ketertiban," tegas Jenderal Prayut Chan-O-Cha dalam pernyataan resminya yang tergolong langka, seperti dilansir AFP, Kamis (15/5/2014).
Dia menambahkan: "Militer mungkin perlu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan situasi ini."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komentar Jenderal Prayut ini disampaikan pasca 3 orang tewas dan lebih dari 20 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan granat dan aksi penembakan terhadap demonstran antipemerintah yang berkumpul di pusat Kota Bangkok.
Selama gejolak politik terjadi di negara tersebut, militer Thailand berusaha tetap netral di depan publik. Pasca pelengseran PM Yingluck Shinawatra, demonstran antipemerintah mendesak penunjukan PM baru yang netral, untuk menggantikan pemerintahan yang dikuasai partai Pheu Thai yang menaungi Yingluck.
"Kali ini, masalahnya lebih rumit dan memiliki beberapa dimensi," imbuh Jenderal Prayut dalam pernyataannya.
Kekhawatiran akan terjadinya konflik sipil mencuat setelah massa pendukung pemerintah Thailand atau massa 'Kaos Merah' memperingatkan akan adanya perang sipil jika pemerintahan digulingkan. Demonstran antipemerintah dan massa 'Kaos Merah' sama-sama beraksi di Bangkok, namun di lokasi berbeda.
Pemimpin massa 'Kaos Merah' memperingatkan agar tidak terjadi kudeta militer saat krisis politik terjadi, namun demonstran antipemerintah berulang kali mendesak militer untuk turun langsung menangani krisis politik yang diwarnai kekerasan.
(nvc/nwk)











































