Demonstran Bentrok dengan Polisi Venezuela, 105 Orang Ditangkap

Demonstran Bentrok dengan Polisi Venezuela, 105 Orang Ditangkap

- detikNews
Kamis, 15 Mei 2014 12:28 WIB
Demonstran Bentrok dengan Polisi Venezuela, 105 Orang Ditangkap
Demonstran di Venezuela yang ditangkap (Reuters)
Caracas - Kepolisian Venezuela menangkap 105 orang yang terlibat unjuk rasa antipemerintah di ibukota Caracas. Penangkapan dilakukan setelah demonstran yang sebagian besar mahasiswa ini melemparkan batu dan petasan ke kantor pemerintah.

Mahasiswa yang berunjuk rasa menuntut pembebasan rekan-rekan mereka yang ditangkap beberapa hari sebelumnya. Namun unjuk rasa dengan cepat berubah menjadi aksi kekerasan ketika demonstran menyerbu kantor Kementerian Pariwisata.

Polisi antihuru-hara lantas dikerahkan untuk mengamankan lokasi. Gas air mata terpaksa ditembakkan ke arah demonstran untuk membubarkan mereka. Demikian seperti dilansir AFP, Kamis (15/5/2014).

Komandan Garda Nasional resimen Caracas, Manuel Quevedo menuturkan, 16 wanita dan 89 pria ditangkap pada Rabu (14/5) waktu setempat. Di antara demonstran yang ditangkap, terdapat 11 anak di bawah umur. Organisasi non-pemerintah setempat, Foro Penal mengkonfirmasi jumlah tersebut.

Truk yang membawa para demonstran yang ditahan berusaha melintasi jalur utama di distrik Chacao, Caracas, yang juga menjadi lokasi utama unjuk rasa. Truk tersebut dihadang oleh demonstran lain yang berusaha menghalangi dan meneriakkan "Lepaskan mereka!".

Lebih lanjut, Quevedo menyatakan ada dua personel pasukan keamanan yang terluka dalam bentrokan tersebut. Menurutnya, satu kapten Garda Nasional diserang dan seorang sersan hampir dilindas kendaraan ketika demonstran berusaha mencegah penangkapan rekannya tersebut.

"Semua sudah dilakukan dengan menghormati HAM," ucapnya.

Pekan lalu, lebih dari 200 orang ditahan polisi dalam unjuk rasa di Caracas. Sebagian besar kemudian dibebaskan. Sedangkan sedikitnya 42 orang tewas dan lebih dari 800 orang lainya luka-luka semenjak unjuk rasa melawan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro berlangsung pada Februari lalu.

(nvc/nwk)


Berita Terkait