Ledakan Granat dan Penembakan di Bangkok Renggut 2 Nyawa

Ledakan Granat dan Penembakan di Bangkok Renggut 2 Nyawa

- detikNews
Kamis, 15 Mei 2014 08:59 WIB
Ledakan Granat dan Penembakan di Bangkok Renggut 2 Nyawa
Ilustrasi (Reuters)
Bangkok - Serangan granat dan aksi penembakan kembali terjadi di Bangkok, Thailand. Dua orang tewas dan 21 orang lainnya mengalami luka-luka dalam insiden ini.

Kepolisian setempat, seperti dilansir AFP, Kamis (15/5/2014), menuturkan dua granat jenis M79 dilemparkan ke lokasi unjuk rasa antipemerintah di Democracy Monument, Bangkok dan meledak. Serangan granat tersebut kemudian diikuti dengan beberapa kali suara tembakan.

"Korban pertama merupakan seorang demonstran yang sedang tidur di Democracy Monument, sedangkan korban kedua merupakan seorang penjaga para demonstran yang tewas karena tembakan," terang Mayor Polisi Wallop Prathummuang kepada AFP.

Dalam pernyataan via situsnya, Pusat Urusan Darurat Kota Erawan menyebutkan dua orang tewas dan 21 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terjadi pada Kamis (15/5) dini hari, sekitar pukul 03.00 waktu setempat ini.

Tidak ada laporan lebih lanjut mengenai identitas pelaku penembakan. Namun baik demonstran antipemerintah maupun demonstran pendukung pemerintah Thailand sama-sama memiliki pasukan bersenjata garis keras.

Insiden ini semakin menambah jumlah korban tewas dalam unjuk rasa antipemerintah yang sudah berlangsung selama 6 bulan terakhir. Sejauh ini, korban tewas di Thailand mencapai 27 orang, dengan ratusan orang lainnya luka-luka akibat serangan granat dan aksi penembakan misterius.

Pasca Yingluck Shinawatra dilengserkan dari jabatan Perdana Menteri Thailand oleh pengadilan konstitusional, pekan lalu, demonstran antipemerintah terus meningkatkan aksinya. Demonstran antipemerintah menolak digelarnya pemilu pada 20 Juli mendatang. Mereka menyebut pemerintahan yang dikuasai oleh Partai Puea Thai telah kehilangan legitimasinya.

Demonstran antipemerintah mendorong Senat Thailand untuk membubarkan pemerintah dan menunjuk Perdana Menteri baru yang netral. Namun seruan tersebut dinilai tidak memiliki dasar hukum.

Menanggapi hal tersebut, demonstran pro-pemerintah atau yang juga disebut massa 'Kaos Merah' memperingatkan akan adanya perang sipil jika pemerintah digulingkan dan ditunjuk Perdana Menteri baru.

(nvc/jor)


Berita Terkait