Otoritas Turki telah mengumumkan masa berkabung nasional selama 3 hari untuk menghormati korban. Menteri Energi Turki Taner Yildiz mengkhawatirkan jumlah korban tewas yang terus bertambah.
"Kami khawatir bahwa jumlah korban tewas akan terus bertambah. Masalahnya lebih serius dari yang kami bayangkan. Ini berkembang menjadi kecelakaan dengan jumlah kematian pekerja tertinggi di Turki sejauh ini," ucap Taner Yildiz seperti dilansir AFP, Rabu (14/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab ledakan ini diduga karena transformator listrik yang rusak. Kepada wartawan, Yildiz menuturkan, ada sekitar 400 orang yang tergabung dalam tim penyelamat. Penyebab utama kematian korban, lanjut Yildiz, ialah keracunan karbon monoksida dan karbon dioksida. Adanya kebakaran di dalam lokasi tambang serta risiko keracunan karbon monoksida ikut menghambat upaya penyelamatan.
"Saya harus mengatakan bahwa harapan kami terhadap upaya penyelamatan di dalam (tambang) semakin memudar," ucap Yildiz.
Para pekerja tambang yang terjebak di bawah tanah diyakini mengenakan masker gas, namun tidak diketahui pasti mereka akan bertahan. Sebagai antisipasi, tim penyelamat memasukkan selang oksigen ke dalam tambang bawah tanah agar para pekerja yang masih hidup dan terluka bisa tetap mendapat suplai oksigen.
Secara terpisah, kepala persatuan tambang di Turki, Nurettin Akcul menuturkan kepada AFP bahwa masih ada sekitar 100-150 orang yang terjebak di dalam. Tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan mereka.
"Kami melakukan semua yang kami mampu untuk mengeluarkan orang-rang yang masih terjebak di bawah tanah... masih ada sekitar 100-150 orang di bawah sana," tuturnya.
(nvc/nwk)











































