Perdana Menteri (PM) interim Thailand, Niwattumrong Boonsongpaisan menawarkan dialog dengan demonstran antipemerintah. Tawaran ini diajukan di tengah dorongan dari lawan politiknya soal penunjukan PM yang netral.
"Kami terbuka untuk dialog," ujar Niwattumrong Boonsongpaisan yang menggantikan Yingluck Shinawatra sejak pekan lalu, seperti dilansir AFP, Selasa (13/5/2014).
"Mari berdialog. Tapi berdialog secara realistis," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demonstran antipemerintah mengancam akan meningkatkan aksi mereka yang sudah berlangsung selama 6 bulan terakhir, demi menggulingkan pemerintahan yang masih tersisa. Mereka menginginkan agar Senat mengganti kabinet pemerintahan sepeninggal Yingluck, yang dianggap telah kehilangan legitimasinya.
Namun di sisi lain, massa pendukung pemerintah Thailand, yang juga disebut massa 'Kaos Merah' menegaskan tidak akan mentolerir tindakan apapun untuk menyerahkan pemerintahan kepada rezim baru yang belum terpilih. Massa 'Kaos Merah' bahkan memperingatkan bahwa hal tersebut akan memicu perang sipil.
Ketua Senat Thailand yang baru ditunjuk, Surachai Liengboonlertchai menyatakan pihaknya tengah menyusun rencana aksi untuk mengakhiri krisis di Thailand. Rencana ini penting menjelang pemilu yang akan digelar pada pertengahan Juli mendatang.
Sedangkan PM sementara Boonsongpaisan menyatakan, dirinya akan melakukan pembicaraan dengan pejabat komisi pemilu setempat soal pelaksanaan pemilu pada 20 Juli mendatang. Boonsongpaisan menolak permintaan pihak oposisi untuk menunda pemilu.
Pasca Yingluck dilengserkan oleh putusan pengadilan konstitusional Thailand pekan lalu, Wakil PM yang juga Menteri Perdagangan Niwatthamrong Boonsongphaisan ditunjuk menjadi PM Thailand sementara. Namun penunjukan Boonsongphaisan ini menuai protes dari oposisi maupun demonstran antipemerintah.
(nvc/ita)











































