Pemerintah Rusia menghormati hasil referendum kemerdekaan yang digelar di dua wilayah Ukraina bagian timur. Rusia mengimbau agar hasilnya diterapkan secara damai.
Kelompok separatis pro-Rusia mengklaim kemenangan mutlak dalam voting referendum yang digelar di dua wilayah, yakni Donetsk dan Luhansk pada Minggu (11/5) kemarin. Pemerintah Ukraina menolak hasil referendum dan menyebutnya sebagai lelucon, sedangkan Uni Eropa mengkritisi hasil referendum tersebut.
"Di Moskow, kami menghormati keinginan rakyat di wilayah Donetsk dan Luhansk dan mengandalkan pada penerapan hasil referendum dengan cara yang beradab, tanpa adanya aksi kekerasan yang berulang dan melalui dialog," demikian bunyi pernyataan Kremlin, yang juga kantor presiden Rusia, seperti dilansir Reuters, Senin (12/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Kremlin menitikberatkan bahwa terdapat jumlah pemilih yang cukup tinggi dalam pelaksanaan voting, meskipun banyak upaya untuk mengganggu jalannya voting.
"Kami mengecam keras penggunaan kekerasan, termasuk penggunaan senjata berat terhadap warga sipil," demikian disampaikan.
Bagi para pemilih yang mendukung Rusia, referendum pada Minggu (11/5) kemarin merupakan hal positif untuk penyatuan wilayah dengan Rusia. Namun di sisi lain, otoritas Rusia membantah adanya ambisi untuk mencaplok wilayah-wilayah Ukraina yang berbahasa Rusia lainnya, menyusul pencaplokan Crimea dalam referendum pada Maret lalu.
(nvc/ita)











































