Seperti diberitakan kantor berita AFP, Sabtu (10/5/2014), saat ini persiapan terus dilakukan untuk menggelar referendum di kota Donetsk dan Lugansk, Ukraina timur. Para pemberontak pro-Rusia bersikeras untuk menggelar referendum tersebut meski Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyerukan untuk menundanya.
Negara-negara Barat yakin bahwa referendum tersebut bisa mendorong kedua wilayah Ukraina tersebut untuk minta bergabung ke Rusia. Barat pun menegaskan, referendum tersebut hanya akan memperparah krisis hubungan antara Barat dan Rusia yang terjadi sejak pencaplokan Crimea, Ukraina oleh Rusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan di antara warga Ukraina yang berbahasa Rusia, hampir 60 persen tidak setuju kalau Ukraina pecah.
Apapun hasil referendum pada Minggu besok, pemerintah di Kiev telah menyatakan tak akan menerima aksi illegal itu. Amerika Serikat dan Uni Eropa pun mengecam rencana referendum yang tidak punya dasar hukum itu.
(ita/ita)










































