Salah satu penyelam menuliskan pengalamannya dalam sebuah jurnal, dengan cukup rinci hingga mampu menggambarkan tuntutan fisik dan psikologi yang dirasakan tim penyelamat. Sang penyelam menjelaskan bagaimana dirinya dan timnya menemukan ratusan jasad korban, sebagian besar anak sekolah, yang terjebak di dalam kapal. Dia menerangkan bagaimana dirinya menyusuri lorong kapal yang gelap dan dingin, yang tenggelam lebih dari tiga minggu lalu.
Isi jurnal ini dipublikasikan pekan ini oleh surat kabar lokal Korsel, Kookje Shinmun yang bermarkas di Busan. Disebutkan si pemilik jurnal dengan nama samaran 'Mr. B'. Demikian seperti dilansir AFP, Jumat (9/5/2014).
Jurnal tersebut menggambarkan bagaimana operasi pencarian dilakukan dari hari ke hari. Dari awal yang dipenuhi rasa optimisme bahwa masih ada penumpang yang hidup mengingat kemungkinan adanya kantong udara di dalam kapal, hingga kenyataan pahit bahwa tidak ada korban selamat lainnya yang ditemukan.
"Pikiran saya dipenuhi satu hal -- menemukan seseorang masih hidup," tulis sang penyelam pada tanggal 19 April, atau 3 hari setelah kapal seberat 6.825 ton tersebut tenggelam.
Dari 467 orang yang ada di dalam kapal, sebanyak 325 orang merupakan anak sekolah dari SMA Danwon. Tragisnya, hanya 172 orang yang berhasil diselamatkan. Para penyelam dipekerjakan oleh perusahaan penyelamatan Undine Marine Industry di bawah kontrak sementara, sehingga penyelam ini tidak berwenang untuk bicara ke media. Maka digunakanlah nama samaran.
Pada tanggal 22 April, operasi penyelamatan berubah menjadi operasi pencarian jasad. Keluarga ratusan korban hilang yang menunggu di pelabuhan Jindo, berpegang pada harapan kecil bahwa masih ada korban selamat.
"Apa yang kita lakukan terhadap anak-anak ini?" tulis si penyelam. "Maaf. Maaf. Maaf," lanjutnya.
Ucapan terima kasih dari orangtua korban karena berhasil menemukan jasad anak mereka, tidak mampu menghilangkan rasa ketidakberdayaan si penyelam. "Saya pikir saya tidak layak menerima ucapan terima kasih," tulisnya.
Kondisi paling memilukan ditulis oleh si penyelam, beberapa hari lalu. Ketika para penyelam berada di bawah tekanan besar dari pemerintah dan keluarga korban yang mendesak agar pencarian dilakukan secepat mungkin. Padahal tantangan yang dihadapi tim penyelam tidaklah sedikit.
"Obor hampir tidak berguna. Visibilitasnya sangat buruk, lebih baik menutup mata dan meraba dengan tangan," sebut catatan tanggal 4 Mei, ketika Mr. B dan rekan penyelamnya berusaha memasang tali pemandu di dalam feri yang tenggelam di kedalaman 40 meter.
Dua hari kemudian, catatan di jurnal tersebut menggambarkan momen penemuan jasad korban di dalam kapal. Dia menabrak sesuatu benda yang rupanya jasad manusia. Di salah satu kabin bahkan si penyelam menemukan satu jasad dalam posisi jongkok di bawah tempat tidur.
"Saya merasakan lengannya terlebih dahulu, kemudian bagian kepalanya dan dadanya. Ruangannya terlalu sempit. Terlalu sulit untuk menariknya keluar dan masa penyelaman mulai habis," tulisnya.
Sejauh ini, satu penyelam telah kehilangan nyawanya saat bertugas. Seorang penyelam sipil bermarga Lee tidak sadarkan diri di dalam air pada Selasa (6/5). Ketika dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit, Lee sudah meninggal dunia. Menurut data dari lembaga penanganan bencana, sedikitnya 24 penyelam lainnya harus menjalani perawatan medis karena cedera dan penyakit dekompresi.
(nvc/ita)











































