Sambil membawa foto anak-anak mereka, para orangtua korban ini duduk-duduk di pinggir jalan, yang berjarak beberapa ratus kilometer dari Blue House. Tampak sejumlah polisi bersenjata lengkap, termasuk polisi anti huru-hara mengawal mereka. Polisi dikerahkan untuk mencegah mereka semakin mendekati Blue House.
"Kami menyerukan untuk bertemu dengan presiden untuk menyampaikan tuntutan kami," ujar juru bicara keluarga korban, Kim Byeong Kwon kepada AFP, Jumat (9/5/2014).
Keluarga korban sudah sangat kritis terhadap cara pemerintah Korsel dalam menangani tragedi kapal Sewol tersebut. Mereka mendesak penjelasan langsung dari Presiden Park soal penundaan upaya penyelamatan pada menit-menit awal ketika insiden terjadi.
Keluarga korban juga menginginkan pihak-pihak yang bertanggung jawab dihukum dengan tegas. Mereka juga meminta lebih banyak personel yang dikerahkan ke lokasi kejadian untuk mempercepat pencarian korban hilang, yang hingga kini mencapai angka 31 orang.
Sejumlah perwakilan keluarga korban akhirnya diperbolehkan masuk ke dalam Blue House untuk berbicara dengan penasihat presiden untuk urusan politik.
Aksi para orangtua korban di luar Blue House ini dimulai sejak Kamis (8/5) malam. Aksi ini berawal dari aksi protes di luar gedung stasiun televisi KBS untuk mendesak permohonan maaf dari televisi tersebut atas pernyataan tak sopan soal korban tewas insiden kapal Sewol.
Pihak KBS melontarkan komentar bahwa jumlah korban tewas Sewol masih lebih sedikit dibanding jumlah korban tewas dalam kecelakaan lalu lintas di Korsel, setiap tahunnya. Beberapa orangtua korban memutuskan untuk bergerak ke Blue House untuk bertemu Presiden Park.
Dari total 467 orang yang ada di kapal, sebanyak 325 orang merupakan anak sekolah dari SMA Danwon yang hendak berwisata ke Pulau Jeju. Jumlah korban tewas hingga saat ini sudah mencapai 273 orang, dengan 31 orang lainnya masih hilang.
Banyak orangtua korban meyakini, anak mereka masih hidup selama beberapa jam atau beberapa hari setelah kapal tersebut terbalik dan mulai tenggelam, mengingat keberadaan kantong udara di dalam kapal. Namun anak-anak mereka sudah tak bernyawa karena upaya penyelamatan terlalu lamban dilakukan.
Salah satu orangtua korban, Kim Hyeon Dong menuturkan, kondisi jasad putrinya yang ditemukan 6 hari setelah kapal tenggelam, menunjukkan bahwa putrinya masih tetap hidup selama beberapa waktu.
"Tubuhnya tidak membusuk sama sekali. Saya yakin dia pasti masih hidup untuk beberapa waktu setelah kapal terbaik. Yang membuat kami marah adalah fakta bahwa kebanyakan anak kami akan tetap hidup jika saja bantuan datang lebih cepat," ucapnya.
(nvc/ita)











































