"Seorang penyelam sipil, Lee, hilang komunikasi pada kedalaman 25 meter di bawah laut sekitar 5 menit setelah penyelaman pertamanya," terang juru bicara South Korea's Government Rescue Headquarters, Koh Myung Suk seperti dilansir CNN, Selasa (6/5/2014).
"Ketika rekannya berusaha menyelamatkannya, Lee tidak sadarkan diri dan tidak mampu bernapas sendiri," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanpa menghitung kematian Lee, hingga kini jumlah korban tewas insiden feri Sewol yang telah ditemukan bertambah menjadi 263 orang. Sedangkan sebanyak 39 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Upaya penyelaman untuk mencari korban yang masih hilang terus dilakukan. Lebih dari 100 penyelam, baik sipil maupun militer, menyusuri kabin demi kabin di dalam kapal yang kini tenggelam di kedalaman 40 meter tersebut, untuk mencari jasad korban.
Operasi pencarian dan penyelamatan berubah menjadi pencarian jasad korban yang sangat melelahkan. Tidak ada satu pun korban yang ditemukan selamat semenjak kapal feri Sewol terbalik dan tenggelam sepenuhnya pada 16 April lalu. Mayoritas korban merupakan anak sekolah dari SMA Danwon yang hendak berwisata ke Pulau Jeju bersama.
Tugas para penyelam semakin sulit dengan adanya pintu-pintu kabin yang tertutup maupun terblokir oleh puing-puing yang ada di dalam kapal tersebut. Para penyelam hanya bisa meraba-raba di dalam lorong kapal kapal yang sempi dan gelap, dengan panduan sebuah tali yang dipasang dari dalam kapal hingga ke permukaan laut.
Keluarga korban hilang hingga kini masih terus menunggu di Jindo hingga keluarga tercinta mereka ditemukan. Muncul kekhawatiran bahwa ada jasad korban yang hanyut terbawa arus hingga kecil kemungkinan untuk ditemukan. Jaring raksasa serta pukat ikan berukuran besar dipasang di sekitar lokasi sebagai antisipasi mencegah adanya jasad korban yang hanyut.
(nvc/asp)











































