Para petugas yang ada di kapal-kapal nelayan sekitar lokasi kejadian memperkuat jaring yang terpasang pada kapal mereka. Tindakan ini dilakukan di tengah kekhawatiran bahwa arus laut yang kuat mungkin telah menghanyutkan beberapa jasad korban ke lautan lepas.
Laporan terbaru menyebut, korban tewas saat ini sudah mencapai 260 orang, dengan 42 orang lainnya masih hilang. Demikian seperti dilansir AFP, Senin (5/5/2014).
Operasi penguatan jaring ini dilakukan pasca kedatangan Presiden Korsel Park Geun Hye ke Jindo, pada Minggu (4/5), untuk menemui keluarga korban yang masih terus menanti keluarga tercinta mereka yang belum juga ditemukan. Keluarga korban tetap bersikeras agar semua jasad korban harus ditemukan terlebih dahulu, sebelum upaya pengangkatan kapal Sewol dilakukan.
Namun sayangnya upaya pencarian korban dipersulit dengan adanya arus laut yang kuat dan gelombang yang besar. Seringkali para penyelam harus menghadapi kondisi yang menantang dan membahayakan hidup mereka, saat melakukan pencarian korban di dalam kapal yang tenggelam di kedalaman 40 meter.
Mereka menyelam sambil meraba-raba sekitarnya dengan panduan hanya seutas tali yang dipasang mulai dari permukaan ke bagian dalam kapal. Tugas para penyelam semakin sulit karena mereka menemui kabin-kabin yang tertutup akibat puing-puing dalam kapal, sehingga menghalangi pencarian.
Semakin hari, barang-barang pribadi para penumpang dan juga puing-puing dari kapal mulai tampak di permukaan dan tak sedikit yang hanyut hingga ke lokasi yang jauh. Bahkan ada jasad korban yang ditemukan hanyut sejauh 4 kilometer dari lokasi kejadian. Ada juga benda dari dalam kapal, salah satunya kasur yang hanyut dan terbawa arus hingga sejauh 30 kilometer.
(nvc/ita)











































