"Kami berjanji bahwa di mana pun keberadaan anak-anak tersebut, kita pasti akan membebaskan mereka," tegas Presiden Jonathan dalam siaran langsung televisi dan radio setempat, seperti dilansir AFP, Senin (5/5/2014).
"Ini merupakan waktu cobaan bagi negara ini. Ini sangat menyakitkan," imbuhnya.
Presiden Jonathan mendorong kerjasama dari para orang tua, wali orang tua dan juga masyarakat setempat dalam upaya penyelamatan ini. Selain meminta bantuan kepada AS, Jonathan menyatakan, pihaknya juga telah mendekati kekuatan dunia lainnya, seperti Prancis, Inggris dan China untuk menangani masalah keamanan ini.
"Kami berbicara dengan negara-negara yang kami pikir bisa membantu kami. Amerika Serikat jelas nomor satu. Saya sudah berbicara dua kali dengan Presiden Obama (soal situasi keamanan Nigeria)," ucapnya.
Jonathan tidak menjelaskan lebih lanjut kapan tepatnya dia berbicara dengan Presiden AS dan juga pemimpin dunia lainnya tentang masalah ini. "Kita akan mengatasi tantangan (keamanan) ini," tegasnya.
Lebih lanjut, Presiden Jonathan mengaku paham jika rakyatnya mengungkapkan kemarahan terhadap pemerintah karena lambannya penanganan kasus penculikan ini. Sedikitnya 223 anak perempuan usia 16-18 tahun yang merupakan pelajar sekolah Borno diculik sejak 14 April lalu, ketika militan setempat menyerbu sekolah mereka.
Pemimpin Nigeria ini menambahkan, pihaknya juga meminta bantuan dan kerjasama dari negara tetangga mereka, seperti Kamerun, Chad, Niger dan Benin terkait hal ini. Presiden Jonathan menyerukan komitmen dan empati dari rakyatnya dalam upaya pemerintah ini.
"Pemerintah butuh bantuan," ujar Jonathan.
Terakhir, Presiden Jonathan membantah rumor bahwa kini pemerintah Nigeria sedang berunding dengan kelompok Boko Haram terkait hal ini. "Anda tidak berunding dengan seseorang yang tidak Anda kenal. Isu perundingan belum ada," tandasnya.
(nvc/asp)










































