Kunjungan ini akan dilakukan selang beberapa minggu setelah kelompok pemberontak Suriah mengungkapkan program perintis di mana 'sumber Barat' akan memberikan suplai kepada mereka berupa 20 rudal anti-tank TOW buatan AS. Suplai tersebut akan diberikan kembali dengan janji jika mereka menggunakannya dengan efektif.
"Kepala pasukan revolusi Koalisi Nasional dan juga oposisi Suriah, Ahmad Jarba akan melakukan kunjungan selama 8 hari ke Washington sebagai ketua delegasi mulai 7 Mei," terang kantor pemimpin oposisi Suriah dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Sabtu (3/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia akan bertemu dengan pejabat AS untuk membahas suplai persenjataan canggih untuk FSA untuk memungkinkannya melakukan perubahan keseimbangan di lapangan," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Di AS, Jarba dijadwalkan akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry, Penasihat Keamanan Nasional Susan Rice, sejumlah anggota parlemen dan senator AS, serta pemimpin Partai Republik dan juga Partai Demokrat. Belum ada tanggapan resmi dari otoritas AS terkait hal ini.
Konflik Suriah diawali oleh aksi unjuk rasa damai pada Maret 2011 lalu, namun berujung bentrokan dan pemberontakan yang semakin meluas ke seluruh wilayah Suriah. Kelompok pemberontak menduduki sebagian besar wilayah negara tersebut, namun tetap meminta dukungan dari negara Barat dalam bentuk persenjataan agar mampu melawan kekuatan udara dan darat pasukan Presiden Assad.
Sementara itu, Menlu Inggris William Hague, pada Jumat (2/5) menuturkan bahwa Inggiris berniat melanjutkan pengiriman bantuan non-lethal bagi kelompok pemberontak di Suriah. Niat sempat terhenti pada Desember 2013 lalu karena mengikuti perkembangan kelompok Islamis di Suirah.
Dalam pernyataan tertulisnya kepada parlemen, Menlu Hague menyebutkan akan memberi bantuan berupa peralatan komunikasi, kendaraan, generator dan paralatan medis senilai 1 juta Poundsterling atau setara Rp 19 miliar, bagi FSA.
(nvc/asp)










































