Sedikitnya 31 orang tewas dalam kebakaran yang melanda sebuah gedung di Odessa, Ukraina. Media setempat melaporkan bahwa kebakaran tersebut sengaja dilakukan oleh kelompok militan pro-Rusia yang ada di wilayah Ukraina.
Aksi kekerasan lainnya juga menyebar luas terjadi di sejumlah wilayah Ukraina. Bentrokan antara militan pro-Rusia dengan militan pro-Ukraina di Slavyansk kembali memakan korban tewas, yakni dua tentara Ukraina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hari ini, komunitas internasional harus berdiri bersama mendukung rakyat Ukraina ketika mereka menghadapi tragedi ini," tutur wakil juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Marie Harf dalam pernyataannya seperti dilansir AFP, Sabtu (3/5/2014).
"Kekerasan dan kekacauan yang menyebabkan begitu banyak nyawa terenggut sia-sia dan juga korban luka benar-benar tidak bisa diterima," tegasnya.
Lebih lanjut, Harf mendesak kedua negara untuk segera meredakan ketegangan. "Kami menyerukan semua pihak untuk bekerja bersama demi mengembalikan ketenangan dan hukum dan ketertiban, dan kami menyerukan kepada otoritas Ukraina untuk meluncurkan penyelidikan menyeluruh dan membawa semua pihak yang bertanggung jawab ke pengadilan," ucapnya.
"Aksi kekerasan dan upaya destabilisasi negara ini harus diakhiri," tandas Harf.
Persoalan Ukraina ini telah menjadi masalah serius antara Rusia dengan negara Barat semenjak Perang Dunia. AS sebelumnya telah mengancam akan menerapkan sanksi baru bagi Rusia dalam waktu 3 minggu jika Rusia tidak juga menghentikan aksi, yang disebut AS sebagai aksi destabilisasi Ukraina. Presiden AS Barack Obama mengancam akan memperluas sanksi terhadap sektor ekonomi Rusia jika negara tersebut terus melanjutkan aksinya memicu kekacauan di Ukraina, yang juga mantan wilayah Soviet.
(nvc/asp)











































