Pemimpin Dunia Ini Mundur karena Sebotol Anggur hingga Kapal Karam

Pemimpin Dunia Ini Mundur karena Sebotol Anggur hingga Kapal Karam

- detikNews
Senin, 28 Apr 2014 14:34 WIB
Pemimpin Dunia Ini Mundur karena Sebotol Anggur hingga Kapal Karam
(Foto: ABC Australia (atas) - Reuters (bawah)
Jakarta - Para pemimpin di suatu negara mengundurkan diri karena berbagai macam sebab mulai dari menerima hadiah sebotol anggur hingga merasa gagal mengatasi masalah yang terjadi di negaranya. Berikut para pemimpin di dunia yang mengundurkan diri di tahun 2014.

(Foto: ABC Australia (atas) - Reuters (bawah)

1. PM Ukraina

(Foto: Reuters)
Perdana Menteri (PM) Ukraina Mykola Azarov mengundurkan diri dari jabatannya. Ini dilakukan sebagai upaya meredakan ketegangan di negeri yang tengah dilanda krisis mematikan selama dua bulan itu.

"Saya telah mengambil keputusan pribadi untuk meminta Presiden Ukraina menerima pengunduran diri saya dari posisi PM," ujar Azarov dalam statemen seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (28/1/2014).

Dikatakan Azarov, dirinya berharap pengunduran dirinya ini akan menciptakan "peluang tambahan untuk adanya kompromi politik guna menyelesaikan konflik secara damai."

"Pemerintah telah melakukan segala upaya selama ketegangan ini untuk resolusi damai atas konflik ini," tutur Azarov seraya menambahkan, kabinetnya telah dipaksa untuk bekerja dalam "kondisi ekstrem".

"Saat ini hal terpenting adalah menjaga persatuan dan integritas Ukraina. Ini jauh lebih penting dari rencana ataupun ambisi pribadi mana pun. Karena itulah saya mengambil keputusan ini," tandasnya.

1. PM Ukraina

(Foto: Reuters)
Perdana Menteri (PM) Ukraina Mykola Azarov mengundurkan diri dari jabatannya. Ini dilakukan sebagai upaya meredakan ketegangan di negeri yang tengah dilanda krisis mematikan selama dua bulan itu.

"Saya telah mengambil keputusan pribadi untuk meminta Presiden Ukraina menerima pengunduran diri saya dari posisi PM," ujar Azarov dalam statemen seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (28/1/2014).

Dikatakan Azarov, dirinya berharap pengunduran dirinya ini akan menciptakan "peluang tambahan untuk adanya kompromi politik guna menyelesaikan konflik secara damai."

"Pemerintah telah melakukan segala upaya selama ketegangan ini untuk resolusi damai atas konflik ini," tutur Azarov seraya menambahkan, kabinetnya telah dipaksa untuk bekerja dalam "kondisi ekstrem".

"Saat ini hal terpenting adalah menjaga persatuan dan integritas Ukraina. Ini jauh lebih penting dari rencana ataupun ambisi pribadi mana pun. Karena itulah saya mengambil keputusan ini," tandasnya.

2. Presiden dan PM Afrika Tengah

(Foto: Reuters)
Presiden Afrika Tengah Michael Djotodia dan PM Afrika Tengah Nicolas Tiangaye mundur bersama pada Januari 2014 lalu. Mereka mundur di tengah konflik sektarian antara warga Muslim dan Kristen di negara itu.

Michel Djotodia, sebelum menjadi presiden adalah pemimpin kelompok Muslim yang melakukan pemberontakan pada presiden terdahulu Francois Bozize. Sedangkan Nicolas Tiangaye sudah lama menjadi pemimpin oposisi pemerintah sebelum ditunjuk menjadi Perdana Menteri. Djotodia menjabat sejak Maret 2014, sedangkan Tiangaye menjabat Januari 203.

Namun, kepemimpinan mereka malah memperparah kekerasan SARA, di mana kelompok Muslim dan Kristen saling memerangi satu sama lain. Milisi Kristen melakukan kudeta pada awal Desember 2013, melalui pertumpahan darah di jalanan ibu kota Afrika Tengah, Bangui, yang menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Akhirnya, Djotodia dan Tiangaye setuju untuk mengundurkan diri pada Jumat 10 Januari 2014 lalu. Pengunduran diri mereka disambut perayaan pihak yang melakukan kudeta di jalanan Bangui. Hingga hari Senin (28/4/2014) ini, dikabarkan 1.200 orang dari kelompok Muslim mengungsi dikawal oleh pasukan penjaga perdamaian akibat kekerasan SARA ini. Mereka adalah kelompok muslim terakhir di kota itu yang telah menjadi target milisi Kristen.

Republik Afrika Tengah dilanda konflik sipil sejak pemberontak Seleka - yang mayoritas Muslim - menyingkirkan presiden pada Maret 2013.
Pengambilalihan kekuasaan ini memicu konflik yang semakin parah dan mendorong penduduk mayoritas Kristen melakukan tindakan main hakim sendiri dengan membentuk kelompok milisi bernama "anti-Balaka".

Sejumlah warga muslim kemudian bergerak menuju wilayah yang relatif aman di dua kota yang terletak di sebelah utara. Keberadaan gabungan tentara Prancis dan pasukan multinasional Uni Afrika (MISCA) yang secara keseluruhan mencakup 7.000 personel tidak mampu meredam konflik.
Setelah kaum muslim hijrah, para penjarah menyisir rumah, toko-toko, dan bahkan masjid.

2. Presiden dan PM Afrika Tengah

(Foto: Reuters)
Presiden Afrika Tengah Michael Djotodia dan PM Afrika Tengah Nicolas Tiangaye mundur bersama pada Januari 2014 lalu. Mereka mundur di tengah konflik sektarian antara warga Muslim dan Kristen di negara itu.

Michel Djotodia, sebelum menjadi presiden adalah pemimpin kelompok Muslim yang melakukan pemberontakan pada presiden terdahulu Francois Bozize. Sedangkan Nicolas Tiangaye sudah lama menjadi pemimpin oposisi pemerintah sebelum ditunjuk menjadi Perdana Menteri. Djotodia menjabat sejak Maret 2014, sedangkan Tiangaye menjabat Januari 203.

Namun, kepemimpinan mereka malah memperparah kekerasan SARA, di mana kelompok Muslim dan Kristen saling memerangi satu sama lain. Milisi Kristen melakukan kudeta pada awal Desember 2013, melalui pertumpahan darah di jalanan ibu kota Afrika Tengah, Bangui, yang menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Akhirnya, Djotodia dan Tiangaye setuju untuk mengundurkan diri pada Jumat 10 Januari 2014 lalu. Pengunduran diri mereka disambut perayaan pihak yang melakukan kudeta di jalanan Bangui. Hingga hari Senin (28/4/2014) ini, dikabarkan 1.200 orang dari kelompok Muslim mengungsi dikawal oleh pasukan penjaga perdamaian akibat kekerasan SARA ini. Mereka adalah kelompok muslim terakhir di kota itu yang telah menjadi target milisi Kristen.

Republik Afrika Tengah dilanda konflik sipil sejak pemberontak Seleka - yang mayoritas Muslim - menyingkirkan presiden pada Maret 2013.
Pengambilalihan kekuasaan ini memicu konflik yang semakin parah dan mendorong penduduk mayoritas Kristen melakukan tindakan main hakim sendiri dengan membentuk kelompok milisi bernama "anti-Balaka".

Sejumlah warga muslim kemudian bergerak menuju wilayah yang relatif aman di dua kota yang terletak di sebelah utara. Keberadaan gabungan tentara Prancis dan pasukan multinasional Uni Afrika (MISCA) yang secara keseluruhan mencakup 7.000 personel tidak mampu meredam konflik.
Setelah kaum muslim hijrah, para penjarah menyisir rumah, toko-toko, dan bahkan masjid.

3. PM Italia

(Foto: AFP)
Perdana Menteri Italia Enrico Letta mengundurkan diri dari jabatannya di tengah drama politik yang melanda pemerintahan Italia. Letta menyampaikan surat pengunduran dirinya kepada Presiden Italia Giorgia Napolitano pada Jumat (14/2) kemarin. Pengunduran ini setelah Letta menjalani masa jabatan selama 10 bulan penuh gejolak politik dengan koalisi yang sangat rapuh dalam perjuangan mengatasi krisis ekonomi.

Pengunduran diri ini terjadi setelah Partai Demokrat Italia yang menaungi Letta telah menarik dukungan terhadapnya. Ketika tiba di istana presiden untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya, Letta tampak tersenyum kepada wartawan. Dia juga menyampaikan terima kasih kepada para pendukungnya melalui Twitter.

"Terima kasih kepada semua orang yang membantu saya," ucap Letta seperti dilansir AFP, Sabtu (15/2/2014).

Menanggapi pengunduran diri ini, Presiden Napolitano langsung menggelar rapat dengan sejumlah partai politik dalam koalisinya untuk menentukan Perdana Menteri Italia yang baru. Salah satu kandidat yang mencuat adalah Matteo Renzi yang merupakan pimpinan Partai Demokrat Italia yang juga menaungi Letta.

Renzi yang masih berusia 39 tahun sama sekali tidak memiliki pengalaman di pemerintahan maupun parlemen. Namun Renzi menghadapi tantangan untuk membangun koalisi yang lebih kuat dalam pemerintahan Italia, sebelum menjabat sebagai Perdana Menteri termuda di kawasan Uni Eropa dan juga sepanjang sejarah politik Italia. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah menelepon Letta untuk menyampaikan terima kasihnya atas dedikasi dan persahabatan Letta selama ini.

3. PM Italia

(Foto: AFP)
Perdana Menteri Italia Enrico Letta mengundurkan diri dari jabatannya di tengah drama politik yang melanda pemerintahan Italia. Letta menyampaikan surat pengunduran dirinya kepada Presiden Italia Giorgia Napolitano pada Jumat (14/2) kemarin. Pengunduran ini setelah Letta menjalani masa jabatan selama 10 bulan penuh gejolak politik dengan koalisi yang sangat rapuh dalam perjuangan mengatasi krisis ekonomi.

Pengunduran diri ini terjadi setelah Partai Demokrat Italia yang menaungi Letta telah menarik dukungan terhadapnya. Ketika tiba di istana presiden untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya, Letta tampak tersenyum kepada wartawan. Dia juga menyampaikan terima kasih kepada para pendukungnya melalui Twitter.

"Terima kasih kepada semua orang yang membantu saya," ucap Letta seperti dilansir AFP, Sabtu (15/2/2014).

Menanggapi pengunduran diri ini, Presiden Napolitano langsung menggelar rapat dengan sejumlah partai politik dalam koalisinya untuk menentukan Perdana Menteri Italia yang baru. Salah satu kandidat yang mencuat adalah Matteo Renzi yang merupakan pimpinan Partai Demokrat Italia yang juga menaungi Letta.

Renzi yang masih berusia 39 tahun sama sekali tidak memiliki pengalaman di pemerintahan maupun parlemen. Namun Renzi menghadapi tantangan untuk membangun koalisi yang lebih kuat dalam pemerintahan Italia, sebelum menjabat sebagai Perdana Menteri termuda di kawasan Uni Eropa dan juga sepanjang sejarah politik Italia. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah menelepon Letta untuk menyampaikan terima kasihnya atas dedikasi dan persahabatan Letta selama ini.

4. PM Negara Bagian New South Wales Australia

(Foto: Reuters)
PM Negara Bagian New South Wales, Barry O'Farrell, mengundurkan diri dari posisi nomor satu di negara bagian beribukota Sydney, Australia, tersebut. Pasalnya, ia tidak mampu menjelaskan kepada Komisi Antikorupsi Australia (ICAC) soal kontak telepon dengan perusahaan air Australian Water Holdings (AWH) yang diduga memberikan hadiah sebotol anggur senilai 3.000 dollar (Rp 30 juta lebih).

Pengumuman pengunduran dirinya itu disampaikan O'Farrell, Rabu (16/4/2014) pagi waktu setempat. Sehari sebelumnya O'Farrell diperiksa sebagai saksi oleh ICAC dalam lanjutan penyelidikan kasus korupsi yang melilit AWH. Penyidik ICAC menduga pihak AWH melobi O'Farrell terkait dengan kesepakatan bisnis AWH dan Sydney Water, perusahaan air milik negara bagian NSW. Kesepakatan ini terkait dengan pembangunan infrastruktur air minum.

AWH secara resmi telah dituduh membuat tagihan tidak sah kepada Sydney Water dan dananya ternyata digunakan untuk kepentingan donasi politik, gaji para pejabat AWH, serta kepentingan lainnya.

Pejabat AWH, Nick Di Girolamo, Selasa (15/4/2014), mengakui di depan penyidik ICAC, bahwa ia pernah mengirim sebotol anggur senilai 3000 dollar kepada O'Farrell di tahun 2011. Alasan Di Girolamo, anggur mahal tersebut sebagai bentuk ucapan selamat karena O'Farrell memenangkan pemilu di NSW.

Anggur tersebut tergolong istimewa. Mereknya adalah Grange, dan diproduksi pada tanggal 24 Mei 1959, bertepatan dengan hari kelahiran O'Farrell. Saat itu, O'Farrell sebagai pejabat publik ternyata tidak mendaftarkan hadiah yang diterimanya tersebut. Namun, di depan penyidik ICAC, O'Farrell membantah pernah menerima hadiah tersebut. "Saya bukan penggila anggur," katanya.

Ia juga menyatakan sudah lupa mengenai rekaman panggilan telepon berdurasi 28 detik dari teleponnya kepada Di Girolamo di tahun 2011, sekitar waktu pengiriman anggur tersebut. Menurut pengakuan Di Girolamo, O'Farrell meneleponnya untuk menyampaikan terima kasih atas kiriman hadiah tersebut. Namun, O"Farrell mengakui ia pernah mengirim nota tertulis ucapan terima kasih yang ia tanda tangani kepada Di Girolamo.

4. PM Negara Bagian New South Wales Australia

(Foto: Reuters)
PM Negara Bagian New South Wales, Barry O'Farrell, mengundurkan diri dari posisi nomor satu di negara bagian beribukota Sydney, Australia, tersebut. Pasalnya, ia tidak mampu menjelaskan kepada Komisi Antikorupsi Australia (ICAC) soal kontak telepon dengan perusahaan air Australian Water Holdings (AWH) yang diduga memberikan hadiah sebotol anggur senilai 3.000 dollar (Rp 30 juta lebih).

Pengumuman pengunduran dirinya itu disampaikan O'Farrell, Rabu (16/4/2014) pagi waktu setempat. Sehari sebelumnya O'Farrell diperiksa sebagai saksi oleh ICAC dalam lanjutan penyelidikan kasus korupsi yang melilit AWH. Penyidik ICAC menduga pihak AWH melobi O'Farrell terkait dengan kesepakatan bisnis AWH dan Sydney Water, perusahaan air milik negara bagian NSW. Kesepakatan ini terkait dengan pembangunan infrastruktur air minum.

AWH secara resmi telah dituduh membuat tagihan tidak sah kepada Sydney Water dan dananya ternyata digunakan untuk kepentingan donasi politik, gaji para pejabat AWH, serta kepentingan lainnya.

Pejabat AWH, Nick Di Girolamo, Selasa (15/4/2014), mengakui di depan penyidik ICAC, bahwa ia pernah mengirim sebotol anggur senilai 3000 dollar kepada O'Farrell di tahun 2011. Alasan Di Girolamo, anggur mahal tersebut sebagai bentuk ucapan selamat karena O'Farrell memenangkan pemilu di NSW.

Anggur tersebut tergolong istimewa. Mereknya adalah Grange, dan diproduksi pada tanggal 24 Mei 1959, bertepatan dengan hari kelahiran O'Farrell. Saat itu, O'Farrell sebagai pejabat publik ternyata tidak mendaftarkan hadiah yang diterimanya tersebut. Namun, di depan penyidik ICAC, O'Farrell membantah pernah menerima hadiah tersebut. "Saya bukan penggila anggur," katanya.

Ia juga menyatakan sudah lupa mengenai rekaman panggilan telepon berdurasi 28 detik dari teleponnya kepada Di Girolamo di tahun 2011, sekitar waktu pengiriman anggur tersebut. Menurut pengakuan Di Girolamo, O'Farrell meneleponnya untuk menyampaikan terima kasih atas kiriman hadiah tersebut. Namun, O"Farrell mengakui ia pernah mengirim nota tertulis ucapan terima kasih yang ia tanda tangani kepada Di Girolamo.

5. PM Korsel

(Foto: Reuters)
Perdana Menteri Korea Selatan Chung Hong-won mengumumkan pengunduran dirinya di tengah kritik atas penanganan pemerintah dalam insiden feri tenggelam Sewol.

"Saya ingin mengundurkan diri lebih cepat, tetapi menangani situasi adalah prioritas utama dan saya berpikir itu adalah tindakan yang tanggung jawab sebelum saya pergi," kata Chung dengan muka yang suram, Minggu (27/04).

"Namun saya memutuskan untuk mengundurkan diri sekarang, (agar) tidak lagi menjadi beban bagi administrasi."

Kerabat korban berulang kali mengkritik pemerintah atas lambannya operasi penyelamatan. Sehari setelah insiden terjadi, Chung dicemooh dan seseorang melemparkan botol air minum kepadanya saat dia mengunjungi para orang tua yang berduka.

Pengunduran diri PM Korsel itu diterima Presiden Korsel Park Geun-Hye

Kapal yang memuat 476 orang - kebanyakan adalah siswa dan guru - dalam perjalanan menuju Pulau Jeju. Para penyelam sudah mengangkat 183 jenazah dari kapal yang tenggelam itu, namun ratusan orang yang sebelumnya dinyatakan hilang kini diduga telah tewas.

Dalam insiden ini, mereka yang hidup mengaku 'dihantui' oleh kenangan pahit yang sulit dilupakan.

5. PM Korsel

(Foto: Reuters)
Perdana Menteri Korea Selatan Chung Hong-won mengumumkan pengunduran dirinya di tengah kritik atas penanganan pemerintah dalam insiden feri tenggelam Sewol.

"Saya ingin mengundurkan diri lebih cepat, tetapi menangani situasi adalah prioritas utama dan saya berpikir itu adalah tindakan yang tanggung jawab sebelum saya pergi," kata Chung dengan muka yang suram, Minggu (27/04).

"Namun saya memutuskan untuk mengundurkan diri sekarang, (agar) tidak lagi menjadi beban bagi administrasi."

Kerabat korban berulang kali mengkritik pemerintah atas lambannya operasi penyelamatan. Sehari setelah insiden terjadi, Chung dicemooh dan seseorang melemparkan botol air minum kepadanya saat dia mengunjungi para orang tua yang berduka.

Pengunduran diri PM Korsel itu diterima Presiden Korsel Park Geun-Hye

Kapal yang memuat 476 orang - kebanyakan adalah siswa dan guru - dalam perjalanan menuju Pulau Jeju. Para penyelam sudah mengangkat 183 jenazah dari kapal yang tenggelam itu, namun ratusan orang yang sebelumnya dinyatakan hilang kini diduga telah tewas.

Dalam insiden ini, mereka yang hidup mengaku 'dihantui' oleh kenangan pahit yang sulit dilupakan.
Halaman 2 dari 12
(nwk/nrl)


Berita Terkait