"Saya mendesak Rusia untuk mundur dan tidak meningkatkan situasi di Ukraina timur," cetus Rasmussen dalam sebuah seminar di Paris, Prancis seperti diberitakan AFP, Selasa(8/4/2014).
"Jika Rusia mengintervensi lebih jauh di Ukraina, itu akan menjadi kesalahan bersejarah. Itu akan mendatangkan konsekuensi serius bagi hubungan kami dengan Rusia dan akan membuat Rusia semakin terisolasi secara internasional," imbuhnya.
Dalam pidatonya tersebut, Rasmussen secara khusus menyerukan Rusia untuk menarik mundur pasukannya dari perbatasan dengan Ukraina.
"Setiap langkah lebih jauh ke dalam Ukraina timur akan mencerminkan eskalasi serius, bukannya penurunan eskalasi yang kita semua inginkan," tuturnya.
"Kami meminta Rusia untuk menarik puluhan ribu pasukan yang ditempatkannya di perbatasan Ukraina, terlibat dalam dialog tulus dengan otoritas Ukraina dan menghormati komitmen-komitmen internasionalnya," tandas Rasmussen.
Hal ini disampaikan Rasmussen setelah para aktivis pro-Rusia menduduki gedung-gedung pemerintah di kota Kharkiv, Lugansk dan Donetsk di Ukraina timur. Mereka juga mengumumkan deklarasi kemerdekaan dari Ukraina dan bersumpah akan menggelar referendum untuk bergabung dengan Rusia.
Situasi ini mengingatkan kembali akan situasi serupa bulan lalu di Crimea, Ukraina yang telah memisahkan diri dari pemerintahan Kiev dan bergabung dengan Moskow.
(ita/nrl)











































