Media Korut Lontarkan Komentar yang Menghina Presiden Korsel

Media Korut Lontarkan Komentar yang Menghina Presiden Korsel

- detikNews
Jumat, 04 Apr 2014 17:19 WIB
Media Korut Lontarkan Komentar yang Menghina Presiden Korsel
Park Geun Hye (Reuters)
Pyongyang - Ketegangan antara Korea Utara (Korut) dengan Korea Selatan (Korsel) terus terjadi. Kali ini, otoritas Korut menampilkan komentar menyerang dan menghina Presiden Park Geun Hye. Korut menyebut Presiden Park sebagai wanita menjijikkan yang tidak mampu menikah atau melahirkan anak.

Penghinaan yang fatal ini diduga sengaja dimunculkan untuk memperparah ketegangan dan permusuhan kedua negara yang sama-sama ada di Semenanjung Korea ini. Komentar menghina ini dirilis oleh media nasional Korut, Korean Central News Agency (KCNA).

KCNA merilis komentar seorang warga di Korut atas Presiden Park yang menawarkan bantuan untuk membantu kaum wanita dan anak-anak di Korut. Tawaran itu disebut sebagai hinaan yang diucapkan oleh 'manusia sampah', merujuk pada Presiden Park.

"Park Geun-hye itu adalah wanita tidak pantas yang tidak pernah mendapat kesempatan untuk menikah atau membesarkan seorang anak," cetus warga Korut bernama Kim Un Kyong seperti dikutip KCNA dan dilansir Reuters, Jumat (4/4/2014).

Masih menurut warga Korut tersebut, Presiden Park tidak memiliki hak untuk berbicara tentang anak-anak di Korut.

"Seorang wanita menjijikkan seperti Park Geun-hye merupakan keberadaan yang tidak koheren yang sejak lama menyerah menjadi wanita Korea dan yang menghina kesakralan seorang ibu, gila pada penyelenggaraan konfrontasi nasional," sebutnya.

Selama ini, Korut dikenal sangat ketat dalam mengawasi dan mengendalikan media. Bahkan terkadang media Korut lebih sering didominasi oleh artikel yang mengagungkan pemimpin mereka, baik yang masih menjabat maupun yang telah wafat.

Tidak jarang, media Korut mengutip warganya atau yang diklaim sebagai kelompok asing hanya untuk menyerang Korsel dan juga Amerika Serikat.

Dalam beberapa pekan terakhir, Korut terus melontarkan komentar tajam terhadap Korsel dan Presiden Park. Hal ini karena mereka menganggap Korsel melanggar kesepakatan kedua negara dalam rangka meningkatkan hubungan.


(nvc/ita)


Berita Terkait