Seperti dikutip dari ABC News, Jumat (21/3/2014), pencarian sebelumnya memang difokuskan di Laut China Selatan. Setelah seminggu pencarian yang tak kunjung mendapatkan hasil, barulah pemerintah Malaysia resmi menyampaikan data radar tentang dugaan pesawat yang hilang pada Sabtu (8/3) dini hari lalu. Lokasi pencarian diubah ke Samudera Hindia.
"Ini memang menjadi persoalan, coba bayangkan waktu yang terbuang percuma dan kemungkinan apapun benda yang berada di atas air bergeser jauh," jelas ahli transportasi Australia Tom Haueter.
Inmarsat, perusaah satelit itu kepada ABC News menyampaikan pandangan pada 9 dan 10 Maret agar pencarian dilakukan di Samudera Hindia. Inmarsat punya alasan jelas soal ini, mereka kemudian membagi data soal temuan satelit di Samudera Hindia dengan perusahaan rekanan mereka pada 11 Maret dan investigator Malaysia pada 12 Maret.
Namun baru 3 hari kemudian, tepatnya 15 Maret, pemerintah Malaysia baru mengumumkan bahwa pesawat kemungkinan tidak ada di Selat Malaka dan Laut China Selatan dan kemudian pencarian difokuskan ke Samudera Hindia.
Juru bicara Inmarsat Chris McLaughlin juga menyampaikan ke BBC bahwa data mereka soal temuan di Samudera Hindia hanya bagian kecil data yang dimiliki investigator Malaysia, jadi mungkin saja tak langsung dilirik.
"Tugas kami hanya membagi data dan mungkin saja data kami dibandingkan dengan data dari pihak lain. Tapi kami tidak tahu persis data dari mana yang diikuti Pemerintah Malaysia," jelas McLaughlin.
(mok/ndr)











































