Dilansir AFP, Minggu (16/4/2014), Rusia yang merupakan salah satu dari anggota tetap dewan keamanan PBB menggunakan hak 'istimewa' yang dimilikinya yakni hak veto. Hak itu digunakan untuk menentang sikap AS, negara-negara Eropa dan anggota dewan keamanan PBB lainnya.
Sedangkan China, negara yang selama ini dianggap cukup dekat dengan Rusia, memilih abstain. Namun abstainnya China ini tak berimbas banyak dari keberhasilan Rusia untuk tetap dapat mengawal jalannya referendum di semenanjung Crimea.
Kecaman negara-negara barat itu berupa draft resolusi yang menolak digelarnya referendum. Draft ini didukung oleh 13 dari 15 dewan keamanan PBB. Dengan penolakan Rusia, maka draft itu gugur dengan sendirinya.
Pihak AS pun ngomel dengan keputusan Rusia untuk menggunakan hak veto. "Rusia terisolasi, sendirian, dan salah, memblokir jalan resolusi," kata Dubes AS untuk PBB, Samantha Power di sidang DK PBB.
"Saat kita berbicara sekarang ini, angkatan bersenjata Rusia menerobos perbatasan timur Ukraina," lanjutnya.
"Sudah bukan menjadi rahasia, bahwa federasi Rusia akan mengeluarkan suara menentang resolusi ini," ujar Dubes Rusia untuk PBB Vitaly Churkin menimpali.
Crimea, adalah wilayah Ukraina dan selama dua pekan terakhir diambil alih Rusia. Nasib wilayah peninsula itu akan ditentukan oleh referendum yang akan digelar pada hari Minggu ini.
Dalam referendum warga Crimea -yang mayoritas merupakan etnis Rusia ini disodori pilihan bergabung dengan federasi Rusia atau tetap berada di bawah Ukraina.
(fjr/fjp)











































