Radar militer menangkap sebuah pesawat tak teridentifikasi yang terbang sejauh 200 mil laut sebelah barat laut Penang, Malaysia pada Sabtu (8/3) pukul 02.51 waktu setempat. Ini berarti sekitar 45 menit setelah pesawat MH370 tersebut terakhir kali tertangkap radar sipil di wilayah udara Teluk Thailand.
Kemungkinan ini memicu dugaan bahwa pesawat jenis Boeing 777-200ER tersebut sempat berbelok dari rute yang sebenarnya dan terbang memutar kembali ke Malaysia. Operasi pencarian lantas diperluas hingga ke Laut Andaman yang ada di sebelah barat laut Malaysia.
Dalam keterangan pers kemarin (12/3) seperti dilansir New Straits Times, Kamis (13/3/2014), Pelaksana Tugas Menteri Transportasi Datuk Seri Hishammuddin Hussein menyatakan lebih banyak ahli dilibatkan untuk menganalisi rekamn radar militer dan sipil tersebut.
"Baik data sipil dan militer, di sebelah timur dan barat, maupun di daratan atau di perairan," ucap Hishammuddin usai ikut dalam penyisiran di ujung utara Selat Malaka dengan pesawat militer.
Sejauh ini, operasi pencarian besar-besaran terus dilakukan dengan melibatkan 12 negara, 42 kapal dan 39 pesawat. Negara-negara tersebut terus saling berbagi data dan keahlian demi satu tujuan yakni menemukan pesawat yang membawa 227 penumpang dan 12 awak tersebut.
Jika memang pesawat tersebut terbang memutar, muncul pertanyaan apakah hal tersebut memang disengaja? Alastair Rosenchein, seorang mantan pilot mencoba melakukan demonstrasi dengan bantuan simulator penerbangan kepada media Inggris Sky News.
Simulasi dilakukan didasarkan pada dugaan pesawat mengalami kekurangan tekanan udara atau dekompresi saat mengudara. Dalam kondisi demikian, pilot pesawat tentu akan memilih untuk terbang memutar kembali ke Kuala Lumpur merujuk pada risiko hilangnya kendali atas pesawat, akibat kekurangan oksigen dengan bahan bakar tersisa yang mampu melakukan penerbangan sejauh 4.800 kilometer.
Logika secara awamnya yakni: jika pesawat ini memang mengubah jalur penerbangan, kemungkinan yang muncul lebih baik adalah terbang ke suatu lokasi daripada terbang tanpa arah dan tanpa kendali. Ini mengacu pada kemungkinan pesawat masih bisa terbang cukup jauh dengan autopilot setelah dekompresi yang membuat penumpang dan kru di dalamnya tak sadarkan diri, terjadi.
Namun di balik semua analisis dan spekulasi, klarifikasi pasti dari otoritas Malaysia maupun pihak MAS yang sangat dibutuhkan. Militer Malaysia ketika dimintai tanggapan mengenai hal ini menyatakan pihaknya akan mencoba melacak jejak jalur penerbangan pesawat yang hilang kontak tersebut.
(nvc/ita)











































