Chief Executive Officer (CEO) Malaysia Airlines, Ahmad Jauhari Yahya menjelaskan bahwa pesawat tersebut baru saja menjalani perawatan rutin pada 23 Februari lalu di hangar Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA). Jadwal perawatan selanjutnya jatuh pada 19 Juni mendatang.
"Perawatan dilakukan di hangar KLIA dan tidak ada masalah pada kondisi pesawat," demikian pernyataan Ahmad Jauhari seperti dilansir Bernama, Selasa (11/3/2014).
Ahmad Jauhari menambahkan, pesawat tersebut diterima pihak Malaysia Airlines pada tahun 2002 lalu. Sejak saat itu, pesawat ini menjalani 53.465 jam terbang dengan total 7.525 kali perjalanan.
Menurut Ahmad Jauhari, seluruh pesawat yang dioperasikan oleh Malaysia Airlines dilengkapi dengan sistem monitor data secara berkelanjutan yang disebut Aircraft Communication Addressing and Reporting System (ACARS). Sistem ini memancarkan data secara otomatis.
"Namun, hingga saat ini tidak ada panggilan mengenai gangguan dan tidak ada informasi yang disampaikan," tandasnya.
Pesawat Boeing 777-200 tersebut menghilang sejak Sabtu (8/3) dini hari, usai lepas landas dari Kuala Lumpur, Malaysia. Pesawat yang membawa 227 penumpang dan 12 awak ini dijadwalkan mendarat di Beijing pada Sabtu (8/3) pukul 06.30 waktu setempat. Namun hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
(nvc/ita)











































