Polisi Malaysia Pernah Cegat Orang Bawa Peledak di Bandara Kuala Lumpur

Polisi Malaysia Pernah Cegat Orang Bawa Peledak di Bandara Kuala Lumpur

- detikNews
Selasa, 11 Mar 2014 13:08 WIB
Polisi Malaysia Pernah Cegat Orang Bawa Peledak di Bandara Kuala Lumpur
Kuala Lumpur, - Di tengah hangatnya pemberitaan mengenai temuan dua paspor palsu yang digunakan penumpang pesawat Malaysia Airlines (MAS) yang hilang, pejabat kepolisian Malaysia mengungkapkan fakta mengejutkan.

Seorang pejabat senior kepolisian Malaysia mengatakan, orang-orang yang membawa bahan peledak dan menggunakan paspor palsu pernah mencoba menerobos Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) beberapa waktu silam.

"Kami telah menghentikan orang-orang dengan paspor palsu atau curian dan membawa bahan peledak, yang mencoba melewati pengamanan KLIA untuk naik ke pesawat," kata pejabat yang tak ingin disebut namanya itu kepada Reuters seperti dilansir New York Post, Selasa (11/3/2014).

Pejabat tersebut mengatakan, insiden tersebut telah terjadi sebanyak dua atau tiga kali. Namun dia menolak menjelaskan lebih rinci.

"Ada dua atau tiga insiden, namun saya tak akan membocorkan rinciannya," cetusnya.

Ditegaskannya, penyelidikan kepolisian Malaysia kini difokuskan pada dua penumpang pesawat MAS MH370 yang menggunakan paspor palsu.

Sebelumnya, Badan Kepolisian Internasional (Interpol) menyatakan bahwa paspor yang dicuri dan digunakan dua orang untuk naik ke pesawat MAS MH370, ada dalam database mereka.
 
Namun sejak paspor itu dinyatakan hilang, hingga keberangkatan pesawat MAS MH370 pada Sabtu (8/3) lalu, tak ada negara yang menggunakan database Interpol untuk mengecek status kedua paspor yang hilang tersebut, yang masing-masing atas nama Luigi Maraldi (Italia) dan Christian Kozel (Austria).

Sekjen Interpol Ronald Noble pun menyampaikan keheranannya karena hanya segelintir dari 190 negara anggota Interpol, yang secara sistematis menggunakan database Interpol untuk menentukan apakah dokumen yang digunakan untuk naik pesawat terdaftar sebagai paspor yang hilang atau dicuri.
 
"Ini adalah situasi yang tidak pernah kita harapkan terjadi. Selama bertahun-tahun Interpol telah meminta, mengapa sebuah negara harus menunggu sebuah tragedi untuk menempatkan langkah-langkah keamanan yang bijaksana di imigrasi," cetus Noble.


(ita/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini