Media asing seperti Mirror (Inggris), the Voice of Russia (Rusia), wantchinatimes (Taiwan), menulis kabar soal kaitan aksi teror suku Uigur dan misteri pesawat MAS. Isu ini berkembang setelah ada pesan berantai yang dikirim dalam format PDF ke sejumlah jurnalis di China pada 9 Maret 2014 lalu. Kelompok itu menamakan dirinya 'Chinese Martyrs'.
"Kalian membunuh satu anggota klan kami, kami akan membunuh 100 dari kalian sebagai bayaran," tulis pesan tersebut.
Ada yang berspekulasi mengarahkan kelompok itu ke grup militan Uighur. Sebab pada pekan lalu mereka dituding dalam kasus penyerangan di stasiun kereta. Suku Uighur tinggal di kawasan utara region Xinjiang. Mereka adalah kelompok etnis muslim minoritas. Koresponden the Voice of Russia menyebut, kelompok Uighur akan jadi pihak pertama yang dituding bila kemungkinan teror terbukti.
Sejak tahun 1949, mereka telah berjuang untuk merdeka karena merasa direpresi dalam menjalankan ibadah agama dan didiskriminasi oleh pemerintah China. Represi itu misalnya mereka harus memakai Alquran yang disetujui oleh pemerintah China, bila ingin bekerja di pemerintahan tidak boleh memakai jilbab, dll.
Kaitan kelompok itu dengan hilangnya pesawat tentu saja dari dua penumpang yang diduga mencuri paspor milik warga negara Italia dan Austria yang hilang di Thailand. Mereka dilaporkan membeli tiket bersamaan.
Pada bulan Oktober tahun lalu, etnis ini juga dituding dalam aksi teror di Tiananmen Square. Lima orang tewas dalam insiden tersebut. Amerika Serikat bahkan memberi label suku Uigur 'setara' dengan Al Qaeda.
Namun, sebagian besar media lain tak menghiraukan pesan 'Chinese Martyrs' itu karena terlalu spekulatif. Terlebih lagi, belum ada pejabat resmi yang memberikan respons. Ada yang menganggapnya sebagai hoax. Kelompok itu juga tak pernah terdengar sebelumnya terkait aksi terorisme.
Mereka yang skeptis menilai isu ini dihembuskan untuk memanaskan tensi konflik etnis di China. Baru-baru ini terjadi kasus penyerangan di kawasan China Utara Xinjiang, tepatnya di wilayah Uighur dan aksi penusukan massal di ibu kota Yunan, Kunming, yang membuat 33 orang tewas.
Sejumlah analis juga melihat kredibilitas pernyataan 'Chinese Martyrs' itu tidak kuat. File PDF dikirim melalui email anonim yang sulit terlacak atau direply. Para pejabat China belum ada yang memberi respons soal ini.
Sementara itu, hingga saat ini sejumlah pejabat kontraterorisme menyebut belum ada indikasi serangan teroris terkait hilangnya pesawat seharga Rp 3 triliun itu. Adanya dua penumpang yang menggunakan paspor curian tidak lantas menyimpulkan ke arah terorisme.
(mad/nrl)











































