Pesawat MAS Hilang, Kemungkinan Aksi Teroris Harus Dipertimbangkan Serius

Pesawat MAS Hilang, Kemungkinan Aksi Teroris Harus Dipertimbangkan Serius

- detikNews
Senin, 10 Mar 2014 10:59 WIB
Pesawat MAS Hilang, Kemungkinan Aksi Teroris Harus Dipertimbangkan Serius
keluarga penumpang MAS (Reuters)
Washington, - Keberadaan pesawat Malaysia Airlines (MAS) yang hilang sejak Sabtu, 8 Maret lalu hingga kini masih misterius. Berbagai spekulasi pun muncul mengenai apa yang terjadi pada pesawat yang mengangkut 239 orang tersebut. Namun sejumlah pakar menyatakan, kemungkinan aksi terorisme harus dipertimbangkan dengan sangat serius.

Spekulasi bahwa MH370 mungkin telah menjadi target teroris muncul setelah otoritas Malaysia menyatakan bahwa mereka tengah menyelidiki dua penumpang yang menggunakan paspor curian.

Kedua penumpang itu membeli tiket pesawat mereka lewat China Southern Airlines, yang melakukan code-sharing dengan MAS. Keduanya menggunakan paspor seorang warga Italia dan Austria yang mengaku telah kehilangan paspor mereka saat berada di Thailand dua tahun lalu.

Dikatakan John Goglia, mantan anggota Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS, tak adanya tanda darurat yang dikeluarkan pilot menunjukkan bahwa pesawat tersebut kemungkinan mengalami dekompresi eksplosif atau hancur akibat bahan peledak.

"Itu pasti sangat cepat karena tak ada komunikasi," cetus Goglia kepada Reuters, Senin (10/3/2014). Ditambahkannya, adanya paspor palsu yang digunakan dua penumpang tersebut merupakan ancaman keamanan besar.

Menurut laporan Departemen Luar Negeri AS tahun 2012, Malaysia rentan akan aktivitas teroris dan telah digunakan sebagai tempat transit dan perencanaan untuk para teroris. Namun Deplu AS mencatat, Malaysia belum pernah mengalami insiden terorisme serius selama beberapa tahun.

Para pakar lainnya menekankan bahwa hilangnya pesawat MAS ini terjadi di saat berakhirnya pertemuan tahunan Kongres Rakyat Nasional di Beijing, China serta bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran akan terorisme di China.

Kolonel Richard Kemp, mantan kepala kontraterorisme pemerintah Inggris, mengatakan bahwa kemungkinan aksi teroris harus dipertimbangkan dengan serius. Dia menekankan kabar adanya kaitan antara para separatis dari Xinjiang, China dan jaringan Al-Qaeda. Pemerintah China menuding para separatis Xinjiang mendalangi serangan belum lama di wilayah Yunnan yang menewaskan 29 orang.

Namun sejumlah pihak juga mengingatkan bahwa terlalu dini untuk menarik kesimpulan berdasarkan paspor curian tersebut. Sebabnya, paspor palsu juga selama ini kerap digunakan para penyelundup dan imigran ilegal.

"Hanya karena paspor tersebut curian bukan berarti orang yang menggunakannya adalah teroris. Mereka bisa saja tak lebih dari sekadar pencuri. Atau mereka mungkin cuma membeli paspor itu di pasar gelap," tutur pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.




(ita/ita)


Berita Terkait