Krisis Crimea, Ukraina membuat banyak warga muslim Tatar angkat kaki dari wilayah Crimea. Mereka kabur karena ingin menjauh dari pasukan Rusia yang kini berada di wilayah Crimea.
"Saya khawatir akan anak-anak saya selama tentara-tentara Rusia berada di Crimea," ujar seorang ibu muda Tatar yang mengungsi ke kota Lviv, Ukraina bersama tiga anaknya yang berumur 2 tahun hingga 5 tahun.
"Di sini saya merasa aman," imbuh wanita tersebut seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (7/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti halnya semua warga Ukraina, kalian berada dalam situasi sulit yang diciptakan oleh Kremlin. Lviv mengulurkan tangannya untuk kalian semua," ujar Petro Kolodiy, kepala dewan wilayah Lviv kepada warga Crimea yang baru tiba.
Kelodiy telah membentuk layanan hotline bagi siapapun yang ingin pindah ke kota tersebut. Bukan cuma otoritas setempat yang menyambut warga Crimea, namun penduduk lokal pun turut menawarkan bantuan. Termasuk para pemilik hotel dan spa yang menawarkan untuk menampung mereka secara gratis.
Crimea merupakan wilayah otonomi Ukraina yang populasinya mayoritas etnis Rusia. Pasukan Rusia secara de facto mengambil alih kendali atas Crimea setelah tumbangnya kekuasaan Presiden Yanukovich yang pro-Moskow.
Parlemen Crimea pada Kamis, 6 Maret menyatakan telah memutuskan "untuk bergabung ke Federasi Rusia dengan hak-hak sebagai rakyat Federasi Rusia." Parlemen Crimea pun telah menetapkan akan menggelar referendum soal ini pada 16 Maret mendatang.
Sebagian besar warga Crimea yang telah tiba di Lviv adalah warga minoritas muslim Tatar, yang dideportasi ke Siberia dan Asia tengah semasa rezim Joseph Stalin di Uni Soviet dan baru kembali setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991.
Maka tak heran, kedatangan pasukan Rusia ke Crimea memicu kekhawatiran akan masa depan warga Tatar.
(ita/nrl)










































