Hal ini dikarenakan Iran dan Rusia yang mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad dan kelompok-kelompok jihadis yang terus berdatangan ke medan tempur di Suriah.
Menurut para pakar AS, Assad memilih untuk berdiam diri sementara kelompok-kelompok militan seperti al-Nusra dan Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) terus berkembang. Ini menjadikan kelompok oposisi moderat yang didukung Amerika Serikat, harus berperang melawan dua kubu, yakni tentara pemerintah dan para militan al-Nusra dan ISIL.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Skenario paling mungkin yang kini diprediksi komunitas intelijen AS, adalah bahwa perang tersebut akan berlangsung hingga satu dekade lagi atau lebih," ujarnya di depan komite hubungan luar negeri Senat AS seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (7/3/2014).
Pembicaraan damai mengenai konflik Suriah yang digelar di Jenewa, Swiss yang dimotori AS dan Rusia, gagal pada akhir Februari lalu setelah berlangsung dua putaran saja. Sejauh ini belum diketahui kapan dialog tersebut akan kembali dilanjutkan.
Pada bulan Maret ini, pergolakan berdarah di Suriah telah menginjak tahun ketiga sejak dimulai pada 15 Maret 2011 lalu. Sejauh ini, sekitar 140 ribu orang telah tewas selama konflik tersebut. Sebanyak 2,5 juta warga Suriah telah kabur ke luar negeri dan sekitar 6,5 juta jiwa lainnya telah kehilangan tempat tinggal mereka di Suriah.
(ita/nrl)











































