"Ini sudah kode merah, ini bukanlan ancaman. Ini sebenarnya adalah sebuah deklarasi perang pada negara kami," ujar Arseniy dalam Bahasa Inggris kepada wartawan, seperti dilansir dari AFP, Minggu (2/3/2014).
Hal itu disampaikan oleh Arseniy sehari setelah parlemen Rusia menyetujui pengerahan angkatan bersenjata mereka ke Ukraina.
Ratusan tentara Rusia melakukan konvoi menuju kota Crimea, Ukraina pada hari Minggu ini. Presiden Rusia Vladimir Putin telah menolak bujukan Barat untuk menarik kembali pasukannya. Putin berkeras pihaknya memiliki hak untuk melindungi kepentingan populasi masyarakat berbahasa Rusia di Crimea dan tempat lainnya di Ukraina.
Presiden Putin sempat meminta persetujuan untuk mengirimkan pasukan Rusia ke Crimea untuk menormalkan situasi politik di sana. Putin menyebut adanya ancaman terhadap kehidupan warga Rusia dan personel militer Rusia yang berbasis di wilayah selatan negara itu.
Presiden Barack Obama menelepon Putin sekitar 90 menit pada hari Sabtu (1/3) dan menyampaikan perhatian mendalamnya mengenai hal ini. Obama memperingatkan Rusia jika hal ini merupakan pelanggaran atas hukum internasional.
Selama 14 tahun sejak tahun 1921, Crimea berada di bawah kekuasaan Uni Soviet dengan status otonomi. Namun pada 1945 atas campur tangan Nikita Khrushchev, Crimea akhirnya menjadi bagian dari negara Ukraina.
Pada saat Uni Soviet pecah pada 1991, Crimea akhirnya berada di negara Ukraina yang baru merdeka. Walaupun begitu, 60 persen dari 2 juta populasinya merupakan etnis Rusia, sehingga sering terjadi pertikaian antara entis Rusia dan Ukraina asli.
Sehingga pada bulan Mei 1992 majelis konstitusi Simferopol menyepakati Republik Krimea sebagai republik otonom dalam negara Ukraina hingga saat ini.
(dha/trq)











































