Satu dari tiga persidangan yang harus dijalani Morsi ini fokus pada dakwaan spionase yang dijeratkan kepadanya. Morsi dan 35 orang lainnya, termasuk para pemimpin Ikhwanul Muslimin dituduh berkonspirasi dengan kekuatan asing, seperti gerakan militan Palestina, Hamas dan kaum Syiah di Iran untuk mengacaukan Mesir.
"Memberikan ke negara asing... rahasia pertahanan negara dan memberikan laporan keamanan kepada Garda Revolusioner Iran dengan tujuan untuk mendestabilisasi keamanan dan stabilitas negara," demikian bunyi dokumen persidangan seperti dilansir AFP, Senin (24/2/2014).
Namun tidak disebutkan lebih lanjut negara asing yang dimaksud. Sidang yang digelar pada Minggu (23/2) kemarin ini merupakan sidang kedua sejak 16 Februari lalu.
Jaksa menambahkan, Morsi dan terdakwa lainnya melakukan aktivitas spionase dalam nama Ikhwanul Muslimin dan juga Hamas. Aktivitas spionase itu dilakukan pada tahun 2005 lalu hingga Agustus 2013.
"Dengan tujuan untuk melakukan serangan teror di negara ini demi memicu kekacauan dan menggulingkan negara," sebut dokumen tersebut.
Selama 1 tahun kepemimpinan Morsi di Mesir, hubungan Kairo dengan Hamas sangat berkembang. Namun sejak Juli 2013 lalu, pemerintah militer yang berkuasa di Mesir menuding Hamas mendukung Morsi dan Ikhwanul Muslimin serta melakukan serangkaian serangan teroris di Mesir.
Dalam sidang ini, Morsi ditempatkan di tempat khusus yang dilindungi kaca antipeluru. Hal ini demi melindunginya dari terdakwa lain. Namun tetap saja, saat sidang, para terdakwa termasuk pemimpin Ikhwanul Muslimin sibuk berteriak dan menolak setiap dakwaan yang dijeratkan kepada mereka.
Jika dinyatakan bersalah, para terdakwa ini terancam hukuman mati.
(nvc/ita)











































