Kelompok Ikhwanul membandingkan respons cepat Barat atas situasi di Ukraina, yang berbeda dengan lambannya Barat dalam menghentikan pertumpahan darah di Mesir.
Hal tersebut disampaikan Ikhwanul dalam statemen yang diposting di situsnya seperti dilansir Press TV, Sabtu (22/2/2014). Ikhwanul secara khusus menyorot soal ancaman sanksi AS dan Uni Eropa terhadap Ukraina. Juga seruan Gedung Putih agar militer Ukraina tetap bersikap netral.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ikhwanul Muslimin juga mengkritik pejabat-pejabat pemerintah Barat karena mendukung pemerintahan interim Mesir yang ditunjuk militer.
Mesir telah dilanda pergolakan sejak Juli 2013 lalu, ketika militer menggulingkan kekuasaan presiden terpilih, Mohamed Morsi serta membekukan konstitusi dan membubarkan parlemen. Militer juga mengangkat kepala Mahkamah Konstitusional Adly Mahmoud Mansour sebagai presiden interim Mesir.
(ita/ita)











































