Obama Akan Bertemu Dalai Lama di Gedung Putih, Bisa Picu Kemarahan China

Obama Akan Bertemu Dalai Lama di Gedung Putih, Bisa Picu Kemarahan China

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 21 Feb 2014 11:35 WIB
Obama Akan Bertemu Dalai Lama di Gedung Putih, Bisa Picu Kemarahan China
Barack Obama (AFP)
Washington, - Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan bertemu dengan pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama di Gedung Putih. Pertemuan yang akan digelar pada Jumat, 21 Februari waktu setempat sudah pasti akan menimbulkan kemarahan pemerintah China.

Obama terakhir kali bertemu Dalai Lama di Gedung Putih pada tahun 2011 lalu. Pembicaraan saat itu memicu kemarahan pemerintah China, yang menyebut pertemuan itu telah membahayakan hubungan China-AS.

Saat ini Dalai Lama telah berada di AS. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Caitlin Hayden mengumumkan rencana pertemuan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Presiden akan bertemu Dalai Lama dalam kapasitasnya sebagai pemimpin agama dan budaya yang terkemuka secara internasional," tutur Hayden seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (21/2/2014).

Mengingat sensitifnya pertemuan tersebut, event ini dinyatakan tertutup bagi pers.

Ditegaskan Hayden, pemerintah AS mendukung pendekatan Dalai Lama namun tetap mengakui Tibet sebagai bagian dari Republik Rakyat China. "Kami tidak mendukung kemerdekaan Tibet," tegas Hayden.

"Amerika Serikat sangat mendukung kebebasan HAM dan beragama di China. Kami prihatin akan terus berlangsungnya ketegangan dan memburuknya situasi HAM di wilayah Tibet, China," tandasnya.

Hayden mengatakan, pemerintahan Obama kembali menyerukan pemerintah China untuk melanjutkan kembali dialog dengan Dalai Lama atau perwakilannya, dengan tanpa syarat.

Selama beberapa dekade, pemerintah China telah menentang pertemuan para pemimpin asing dengan Dalai Lama, yang kabur ke India pada tahun 1959 setelah gagalnya pemberontakan melawan pemerintahan China. Dalai Lama bersikeras bahwa dirinya lebih mengharapkan adanya otonomi yang lebih besar bagi rakyat Tibet, bukannya kemerdekaan dari China.

(ita/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini