Operator reaktor nuklir tersebut, Tokyo Electric Power Co. (Tepco) memastikan bahwa air yang terkontaminasi tersebut tidak mencapai laut. Tangki yang bocor tersebut berlokasi sekitar 700 meter dari pantai.
Pihak Tepco, seperti dilansir news.com.au, Kamis (20/2/2014), menuturkan bahwa air terkontaminasi radioaktif mungkin telah bocor melalui pembatas semen di tangki tersebut. Tangki yang bocor tersebut merupakan satu dari seratus tangki yang digunakan untuk menyimpan sisa air terkontaminasi dalam proses pendinginan reaktor yang rusak.
"Tidak ada jalur saluran air di dekat kebocoran, yang juga terjadi jauh dari lautan, sehingga tampaknya air terkontaminasi tersebut tidak dimungkinkan mencapai lautan," terang seorang operator Tepco.
Meskipun demikian, air terkontaminasi yang bocor tersebut terpapar radiasi cukup tinggi. Tercatat kadar radiasi beta mencapai 230 juta berquerel per liter.
Level tersebut sangat tinggi jika dibandingkan kadar radiasi yang diperbolehkan oleh pemerintah, dalam makanan sebesar 100 becquerel per kg dan dalam minuman sebesar 10 bercquerel per liter. Becquerel merupakan satuan untuk radioaktif.
"Kami sekarang sedang dalam proses memperbaiki kebocoran air tersebut dan juga tanah yang mungkin terkontaminasi," imbuh juru bicara Tepco.
Tangki yang bocor tersebut menyimpan air hasil saringan yang telah dihilangkan caesium-nya. Namun tetap saja terdapat strontium yang merupakan bahan kimia yang bisa memicu kanker jika dikonsumsi manusia.
PLTN Fukushima sempat mengalami kerusakan ketika gempa dahsyat dan tsunami melanda Jepang pada Maret 2011 lalu. Otoritas setempat berusaha sekuat tenaga untuk membersihkan kebocoran radioaktif dari kompleks reaktor tersebut. Puluhan ribu orang telah dievakuasi dari lokasi sekitar reaktor demi alasan keamanan.
Operasi pembersihan di kompleks reaktor nuklir tersebut masih berlangsung hingga saat ini dan diperkirakan akan membutuhkan waktu selama satu dekade.
(nvc/ita)











































