"Kita harus jelas: tanggung jawab akhir atas kematian dan kekerasan adalah di tangan Presiden Yanukovych. Ada darah di tangannya," cetus Bildt seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (19/2/2014).
"Berharap adanya kesatuan yang kuat di parlemen hari ini dalam melawan kekerasan dan represi di Ukraina. Orang-orang ditembak mati di jalan-jalan sebuah ibukota Eropa," imbuh pejabat tinggi Swedia itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kiev telah dilanda aksi demo antipemerintah sejak Presiden Viktor Yanukovych tunduk pada tekanan Rusia dan menarik diri dari perjanjian perdagangan yang direncanakan dengan Uni Eropa. Aksi-aksi demo itu berubah fatal pada Selasa, 18 Februari setelah terjadi bentrokan antara aparat polisi dan para demonstran.
Setidaknya 25 orang tewas dalam bentrokan berdarah tersebut. Bentrokan ini merupakan yang terbesar selama 12 minggu gelombang demonstrasi di negeri itu. Bahkan bentrokan ini disebut sebagai hari paling berdarah di Ukraina sejak memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991.
(/)










































