Serangan-serangan terhadap personel keamanan Mesir telah meningkat sejak militer menggulingkan Presiden Mohamed Morsi pada Juli 2013 lalu. Otoritas Mesir pun telah melakukan operasi pemberantasan mematikan dan penangkapan besar-besaran terhadap para pendukung Morsi.
Dalam insiden yang terjadi pada Selasa, 11 Februari malam waktu setempat itu, seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (12/2/2014), para penyerang tak dikenal menembaki sebuah kendaraan polisi yang tengah melintas di jalan raya yang menghubungkan Ismailia ke Kairo. Para penyerang kemudian menyita persenjataan polisi-polisi itu dan kemudian kabur.
Beberapa jam sebelumnya pada hari yang sama, para penyerang tak dikenal juga menembak mati dua polisi dalam serangan terpisah di kota Port Said dan Ismailia.
Dengan korban jiwa terbaru ini, berarti sudah 22 orang polisi yang tewas dalam berbagai serangan militan sejak 23 Januari lalu.
Kelompok yang terinspirasi Al-Qaeda, Ansar Beit al-Maqdis atau Partisans of Jerusalem, telah mengklaim bertanggung jawab atas sebagian besar serangan mematikan di Mesir sejak tergulingnya Morsi. Disebutkan bahwa serangan-serangan itu sebagai pembalasan atas operasi pemberantasan yang dilakukan otoritas Mesir terhadap pendukung Morsi.
Menurut organisasi HAM Amnesty International, lebih dari 1.400 orang telah tewas selama operasi pemberantasan yang dilakukan otoritas Mesir itu. Sementara ribuan orang lainnya dipenjara.
(ita/ita)











































