Media setempat, news.com.au, Rabu (12/2/2014), mengungkapkan cerita bergambar yang sebagian besar ditulis dengan bahasa Afghanistan, Dari dan Pashto tersebut. Tidak disebutkan siapa kartunis di balik buku komik tersebut.
Namun diketahui bahwa komik tersebut telah didistribusikan di sejumlah negara oleh pemerintah Australia. Buku komik ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Australia untuk mencegah para pencari suaka datang ke wilayah Australia dengan menggunakan kapal.
Menanggapi hal ini, juru bicara Menteri Imigrasi Australia Scott Morrison menuturkan bahwa buku komik tersebut memang didistribusikan pada masa pemerintahan Perdana Menteri (PM) Tony Abbott dan juga sejak pemerintahan PM Kevin Rudd. Lebih lanjut, juru bicara tersebut menambahkan, buku komik itu sebenarnya mulai dikembangkan dan didistribusikan di bawah pemerintahan PM Rudd.
Dalam cuplikan komik yang dipublikasikan oleh News.com.au, memang bisa dilihat bahwa alur cerita buku komik tersebut cukup memiliki alur cerita yang emosional. Buku yang hanya terdiri atas gambar kartun tanpa narasi tersebut mengisahkan perjalanan seorang pria pencari suaka untuk menuju ke Perth, Australia.
Si pencari suaka tersebut bermimpi untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di Australia. Dalam perjalanannya, si pria pencari suaka mendapati situasi di luar bayangannya. Dia dipaksa menumpang kapal yang penuh sesak demi berangkat ke Australia.
Namun di tengah jalan, kapal tersebut diterjang badai di laut dan mereka pun dijemput oleh tentara Australia. Kemudian dia dibawa bersama-sama dengan pencari suaka lainnya ke pusat penahanan para pencari suaka. Mimpinya untuk menjalani hidup lebih baik di Australia malah berakhir di pusat penahanan.
Di halaman terakhir buku komik tersebut tertulis peringatan keras pemerintah Australia bagi para calon pencari suaka. "Jika Anda pergi ke Australia tanpa visa dengan menumpang kapal, Anda tidak akan bisa tinggal di Australia," demikian bunyi peringatan tersebut.
Pada intinya, komik tersebut memiliki pesan bagi para calon pencari suaka agar tidak menghambur-hamburkan uang demi pergi ke Australia untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
Keberadaan buku komik ini telah dipromosikan di sejumlah negara seperti Sri Lanka, Afghanistan, Vietnam dan juga Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai lokasi transit para pencari suaka sebelum berlayar ke Australia. Promosi dilakukan menggunakan bermacam media dan bahasa, termasuk melalui televisi, radio dan iklan di media cetak setempat. Komunitas warga asing di Australia juga menjadi sasaran promosi pemerintah.
Cara yang dilakukan pemerintah Australia ini menuai kritikan Senator Christine Milne dari Green Party, yang menyebut komik tersebut sebagai propaganda PM Abbott yang memalukan. "Propaganda Tony Abbott mempermalukan kita dan menjadi ejekan bagi praktik HAM dan perlakuan terhadap pengungsi," sebutnya melalui akun Twitter-nya, @senatormilne.
(nvc/ita)