ο»ΏKontroversi dan kritikan mewarnai kesepakatan wawancara eksklusif Schapelle Corby dengan media Australia, Channel 7 pasca pembebasan bersyaratnya. Nilai kesepakatan yang mencapai jutaan dolar Australia itu memicu kritikan bagi Corby yang dituding sengaja meraup banyak uang dari kejahatannya.
Banyak beredar di media Australia bahwa nilai kesepakatan wawancara eksklusif Corby dengan Channel 7 mencapai AUS$ 3 juta atau setara Rp 32 miliar. Beredar juga jumlah lainnya yang dikabarkan kesepakatan tersebut hanya mencapai AUS$ 2 juta atau setara Rp 21 miliar. Namun tetap saja, nilainya fantastis.
Jurnalis senior dari Channel 7, Mike Willesee menyatakan bahwa kesepakatan dengan Corby belum final. Willesee yang kini mendampingi Corby di Bali menyebut nilai kesepakatan yang beredar di banyak media massa sangatlah konyol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumlah uang yang dibahas kemungkin lebih sedikit. Lebih sedikit dari itu," imbuhnya.
Lebih lanjut, Willesee mengatakan bahwa ada sejumlah hal yang masih belum jelas. Dia sendiri mengaku tidak tahu kapan wawancara akan dilakukan. Komentar Willesee ini muncul seiring kontroversi yang mencuat mengenai apakah Corby diperbolehkan meraup untung dari kejahatannya yang membuatnya mendekam selama 9 tahun di dalam penjara.
Perdana Menteri Austalia Tony Abott sempat berkomentar bahwa Corby tidak diperbolehkan mendapatkan keuntungan, terutama berupa finansial dari tindak kejahatannya. Sedangkan Menteri Keuangan Australia Joe Hockey berkomentar melalui akun Twitter-nya bahwa kesepakatan semacam itu bisa memberikan pesan buruk.
Kasus Corby memang banyak menarik perhatian publik sejak penangkapannya di Bali pada tahun 2004 lalu. Tidak diketahui pasti apakah Corby bisa meraup keuntungan dari tindak kejahatannya jika didasarkan pada undang-undang yang berlaku di Australia, terutama Commonwealth Proceeds of Crime Act.
Kasusnya sendiri cukup rumit karena tindak kejahatannya terjadi di wilayah hukum Indonesia dan dia tidak diadili di Australia. Meskipun ada bagian dalam undang-undang tersebut yang berbunyi 'terkadang bisa digunakan untuk menyita hasil keuntungan dari tindak kejahatan yang melanggar hukum asing'.
Seorang dosen dan ahli hukum dari Charles Sturt University, Hugh McDermott memberikan pandangannya atas situasi ini. Menurutnya, Corby dan keluarganya tetap bisa meraup keuntungan tersebut dengan pengelolaan keuangan yang cerdas agar keuntungan tersebut tidak disita otoritas Australia.
"JIka memang Corby cerdas... dia tidak akan mengambil keuntungan secara langsung dari uang tersebut. Uang tersebut akan mengalir ke keluarganya atau pihak lain yang dipercaya. Ada jutaan dolar (Australia) yang dilibatkan dalam hal ini dan saya membayangkan mereka akan mengaturnya demi menjauhkannya dari tangan aparat penegak hukum (Australia)," jelasnya.
(nvc/ita)











































